Zulfahmi Abdillah

Urang Minang yang Lahir di Tanah Batak

I Won't Give Up

Indak ado kato manyarah sabalun mancubo. Darah Minang itu Padeh!

With Azzam

Bersama Melewati Hari Penuh Makna

Belajar Bersama Alam

Belajarlah.. Pada masanya Alam akan mewisuda dirimu...

Menjaring Matahari

Ringan Bukan Berarti Mudah. Berat Bukan Berarti Sulit.

Tampilkan postingan dengan label Celotehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

Cerita Soal Visi

Hari ini mendapat buku yang cukup menginspirasi, terkadang usil menyentil, dan syarat nasehat. Isinya tidak terlalu tebal namun cukup mengusik pikiran saya yang selama ini terlena akan visi hidup.

Buku yang berisikan catatan seorang CEO perusahaan konveksi mengenai cerita perjalanannya bersama perusahaan yang begitu mempercayakannnya untuk ditangani anak yang baru berusia 25 tahun. 

Itu sentilan pertama, anak yang berusia 25 tahun sudah jadi CEO perusahaan konveksi yang kini branding sangat terkenal di negeri ini. Padahal beliau dengan saya itu ada persamaan, sama-sama mengakhiri kuliah lebih cepat dari waktu seharusnya.

Mengapa itu didapatnya? Tidak mudah ternyata. Begitu banyak proses yang harus dilalui. Dalam catatannya, si CEO tadi hanya menuliskan impian-impiannya dan membangun trust dengan orang lain walaupun itu adalah orang yang baru pertama kali ditemui.

Ini sentilan kedua, saya yang terkadang langsung menaruh curiga dan penuh awas terhadap orang baru. Padahal kalau kita berbaik sangka saja, orang tersebut akan mudah nyaman jika berada di sekitar kita. Bukankah pada dasarnya setiap orang itu baik? itu katanya.

Ciptakan visi dalam setiap aktifitas. Inilah kalimat yang cukup meresap ke dalam sanubari (halah.. ngomong opo..). Coba kalau kita menghadirkan visi dalam setiap aktifitas maka kita akan menentukan cara untuk mengenggamnya. Ketika mau makan, kenapa harus makan? Jika kita menjawab supaya kenyang, maka kita akan makan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan lauknya. Jika menjawab agar nikmat, maka kita akan menentukan makanan enak apa yang akan kita makan.

Bah! Iya juga. Ini sentilan ketiga. Kita terkadang terlalu asik dengan diri sendiri tanpa memikirkan hal baru apa yang ingin kita peroleh di lain hari. Kita terlena dengan kenyamanan yang didapat tanpa menghadirkan zona tantangan untuk menggapai hal yang baru.

Soal hasil? Itu adalah proses. Sekali, dua kali atau berkali-kali gagal adalah hal biasa dalam menggapai visi. Hilangkan kekhawatiran kegagalan yang akan menghampiri. Karena apa? Karena saat terjatuh ingatlah bahwa kita pernah berdiri.

*Ditulis dalam keadaan terkena sentil

Senin, 21 April 2014

Organisasi Dan Sepakbola

Sepakbola adalah salah satu bentuk organisasi sederhana. Ketika seorang teman menanyakan bagaimana cara kita memahamkan kepada orang lain tentang organisasi.

Organisasi sering dipahami sebagai bentuk wadah beberapa orang yang memiliki tujuan yang sama dan berusaha mencapai tujuan tersebut secara bersama-sama.

Inilah mengapa pentingnya organisasi dalam kehidupan. Baik di rumah, di masyarakat, dimanapun kita berada adalah bentuk organisasi.

Dalam skema sebuah tim sepak bola, ada pembagian kerja di antara sesama pemain. Tidak semua pemain jadi penyerang, kalau semua pemain jadi penyerang siapa yang jadi pemain bertahan. Pelatih akan menempatkan beberapa pemain sesuai dengan kemampuannya masing-masing sesuai dengan porsinya. (bersambung)

Mitos Hari Kartini?

Setiap tanggal 21 April, kita bangsa Indonesia terbiasa memperingati Hari Kartini sebagai pahlawan, yang katanya memperjuangkan aspirasi kaum perempuan Indonesia selain itu beliau juga dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan.

Benarkah demikian? Apakah anda mengetahui siapa Kartini yang hidup pada 1 abad silam itu.
Terus terang selama ini saya selalu bertanya-tanya dalam hati kecil tentang siapa itu ibu kita RA. Kartini sehingga kita rutin memperingati hari kelahirannya, apakah dia seorang wanita pemberani yang selalu melawan ketidakadilan pada dirinya, suku, agama atau bangsanya, ataukah dia seorang sosok kharismatik dan pintar yang mengharumkan nama Indonesia di dunia?. Inilah sedikit tanda Tanya yang membebani pikiran saya.

Terlahir dengan nama Raden Ajeng Kartini, putri ke-5 dari 11 saudara dari Raden Mas A.A R.M Sostroningrat dan M.A Ngasirah merupakan keturunan jawa tulen dari kabupaten Jepara. Kartini kecil memang dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin. Pada umur yang relatif muda, Kartini telah mahir bercakap dalam bahasa Belanda, itulah sebabnya banyak tulisan-tulisan beliau yang berbahasa Belanda.
Namun menginjak pada umur 20 tahun, Kartini mulai dipingit dan tidak lama setelah itu dia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang yang berpoligami, padahal pada waktu itu sebenarnya Kartini mendapatkan kesempatan belajar di Betawi.

Pemikiran-pemikiran Kartini banyak tertuang dalam bukunya yang berjudul Door Deirternis tot Licht yang berarti habis gelap terbitlah terang, inilah buku yang melatarbelakangi pemberian gelar pahlawan kepada seorang Kartini sesuai dengan keputusan presiden Indonesia No. 108 tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.
Ada beberapa alasan mengapa Eka Nada Shofa Alhajar seorang mahasiswa S2 di salah satu Universitas di kota Solo ini mencantumkan nama R.A Kartini sebagai salah seorang pahlawan yang perlu dipertanyakan gelar kepahlawanannya didalam bukunya yang berjudul Pahlawan-pahlawan yang digugat.

Pertama; apabila seorang Kartini yang berjuang di balik tembok kamar saja mendapatkan gelar pahlawan nasional dan hari kelahirannya selalu kita peringati, nampaknya hal ini harus kembali kita pertanyakan kembali, untuk menolong dirinya (R.A Kartini) saja tidak bisa, bagaimana dia layak disebut pahlawan yang memperjuangkan nasib banyak orang,

Kedua; perjuangan Kartini seakan jauh dari kata konsisten, itu dikarenakan Kartini menerima begitu saja pinangan Adipati Rembang yang waktu itu sudah beristri 3, padahal dalam banyak tulisannya, jelas-jelas beliau mempertanyakan tradisi kolot tersebut. Dgn kata lain pengidola kartini menyetujui poligami.
Ketiga; pemikiran-pemikiran Kartini hanya bersifat regional Jawa saja, artinya dia tidak pernah sesekali menyinggung keberadaan perempuan pada suku atau bangsa lainnya.

Keempat; apabila kriteria dari pemberian gelar pahlawan nasional diberikan kepada seseorang yang hanya menyampaikan gagasan pemikirannya dari balik tembok kamar saja, tentunya Dewi Sartika lebih pantas di pakai nama dan hari kelahirannya sebagai hari perempuan Indonesia.

Mungkin itulah beberapa alasan yang ingin saya ungkapkan dari ketidaksetujuan saya dari adanya hari Kartini. Saya kira pemberian bahkan penetapan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini terlalu berlebihan, karena masih banyak pahlawan perempuan Indonesia yang layak diberikan penghargaan sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia. Tulisan ini tidak bersifat menggurui atau melecehkan perjuangan seorang Kartini melainkan hanya sebuah ungkapan dari kebisingan polemik gelar pahlawan di Indonesia.

Gelar pahlawan seakan telah menjadi komoditas politik yang sering digunakan untuk memaknai dan memberikan penghargaan kepada para pendahulu sebuah partai politik ataupun lainnya tanpa diketahui perjuangan dan jasanya bagi negara dan bangsa.

Rabu, 16 April 2014

Seharusnya Tidak Seperti Itu...


Mohon maaf sebelumnya, saya harus menuliskan ini karena kegelisahan-kegelisahan pribadi. Terutama, ketika melihat postingan aktivis, kader, atau simpatisasn PKS di jejaring sosial yang agaknya terlalu menjunjung tinggi PKS. Saya paham, sebagai kader atau simpatisan, upaya untuk bangga dan membagus-baguskan PKS adalah hal yang wajar, sah-sah saja, tapi akan menjadi berbeda ketika dibalik upaya untuk membanggakan itu, ada suatu bentuk ‘menjatuhkan’ tokoh lain. terutama Jokowi dan PDIP yang akhir-akhir ini diserang habis-habisan oleh PKS atau kader, atau simpatisannya.

Pertama, Pada Bulan Januari dan Februari yang lalu, ketika Jakarta Banjir besar, di media-media online seperti bersamadakwah.com, PKS Piyungan, dll. Ada upaya agitatif dengan membuat opini jika “Jokowi gagal mengatasi banjir Jakarta”. Awalnya, saya mengira biasa-biasa saja, yang namnya kritik ya wajar-wajar saja. Tapi jadi tidak wajar ketika kemudian dimunculkan sosok Aher (Ahmad Heriyawan) sebagai “penolong” Jokowi.

Secara pribadi, sebagai bangsa Indonesia, kita tentu sangat senang melihat dua pemimpin bersatu dan saling membantu. Tapi akan menjadi berbeda ketika ada upaya mengangkat salah satu tokoh dan menjatuhkan tokoh yang lain. Apalagi, Jokowi belum genap dua tahun memimpin Jakarta, tentu butuh waktu untuk menyelesaikan banjir yang menjadi bencana tahunan itu. sementara Aher, sudah lima tahun memimpin Jabar dan ini adalah periode keduanya.

Kedua, saya sangat menyesalkan kultwit Bang Fahri yang menyerang PDIP terutama ketika Megawati menjadi Presiden. Pertanyaannya, kenapa tiba-tiba bang Fahri melakukan hal itu ketika popularitas PDIP naik? Kenapa tidak dari dulu-dulu saja? Apakah ada upaya menjatuhkan nama baik PDIP agar tidak dipilih dalam pemilu? Entahlah, tapi menurut saya sangat tidak etis mengungkap aib/dosa/kegagalan seseorang sementara periodenya sudah berlalu. Sudah menjadi masa lalu. lalu apa yang diinginkan bang Fahri dengan kultwit itu? ingin Megawati di hukum? Atau di hakimi rakyat agar partainya tak dipilih? Entahlah. Saya semakin susah membedakan mana Partai Islam dan mana yang tidak. sama saja. Sama-sama saling serang menyerang, jatuh menjatuhkan.

Setelah itu, kemudian muncul kultwit baru yang menyerang PKS. Konon itu dari kader PDIP, jika sudah demikian. Maka semakin komplit lah. Antara satu partai dengan partai yang lain saling serang. Duh, sebagai warga biasa. Saya harus berbuat apa? Kalau setiap hari kita disuguhi oleh hal-hal yang tidak penting seperti itu.

Harusnya semua saling legowo. Tidak usah saling jatuh menjatuhkan. Kerja saja yang baik, maka rakyat pasti akan menilai mana partai yang tulus dan mana partai yang ingin tercitrakan baik. kebaikan tidak perlu dicitrakan, karena kebaikan memiliki nilai tinggi di Mata Allah Swt, bukankah Allah maha melihat dan maha segalanya? jika toh partainya di serang habis-habisan, di jatuhkan habis-habisan, tapi kalau Allah berkehendak dia menang pemilu. Ya siapa yang bisa melawan? Kun fayakun.

Ketiga, tentang Partai terkorup. Ada banyak postingan di media tentang rekapitulasi kasus korupsi. Disana disebutkan, PDIP berada di posisi teratas dan PKS berada di posisi terbawah. Hanya saja, kasus korupsi PKS sangat bombastis karena menimpa Presiden PKS. Dalam hati saya bersyukur karena PKS –tergolong partai kanan/Islam—memiliki kasus korupsi terendah. Kalau PDIP menjadi partai dengan rekapitulasi korupsi tertinggi, hal itu masih bisa dimaklumi karena selaku partai besar, dengan kursi yang banyak, kader yang banyak dan spirit nasionalis kiri sebagai pijakannya. Mungkin saja.

Hanya saja, banyak para simpatisan dan (mungkin) kader PKS yang terlalu membanggakan hasil rekapitulasi tersebut. Alhamdulilah, kita patut bersyukur. Meskipun kasus korupsi kuota impor daging sapi itu membekas kuat di benak masyarakat. dan saya sangat menyayangkan, ketika ada upaya menyerang PDIP kembali. Akhirnya data partai terkorup tersebut di sebarluaskan dengan meninggikan PKS dan menjatuhkan PDIP? Kenapa? Tidak perlu begitu lah, biar rakyat yang menilai.

Saya sempat berdiskusi dengan teman saya yang simpatisan PKS itu dan bilang “Alhamdulilah, kita syukuri saja karena PKS masih lumayan bersih dibanding yang lain, tapi juga jangan menjatuhkan partai lain begitu.” Dan dia menjawab “Ini harus di sharingkan ke masyarakat luas, biar mereka tahu mana partai yang baik dan mana partai yang korup. Ini menunjukkan jika PKS adalah partai paling baik.”

Saya terdiam mendengar penjelasan tersebut. Ada upaya agar dirinya terlihat lebih baik dari yang lain, dan ini adalah hal yang fatal menurut saya. Lalu saya menjawab “Tidak perlu, rakyat pasti bisa menilai kok. Lagipula, dengan menyebarkan data partai terkorup, apalagi dengan merendahkan/menjatuhkan partai lain itu justru akan menjadi boomerang. Biar saja itu mengalir, biar saja pihak ketiga yang memberitakan. Ente pihak pertama, yaitu sebagai simpatisan PKS. Dan itu beresiko.” Tapi dia tak menggubris kata-kata saya.

Maksud saya, kalaupun PKS partai bersih, partai yang paling baik diantara Partai yang lain, biarlah pihak ketiga yang memberitakan. Logika sederhananya, jika saya telah berbuat kebaikan, maka akan sangat lucu jika kemudian saya mengumbar kebaikan itu ke orang-orang “he, saya barusan berbuat baik lho.” Tapi akan berbeda lagi jika yang bilang itu orang lain.

Tanpa PKS (Pengurus/kader/simpatisan) membagus-baguskan partainya sebagai partai paling rendah kasus korupsinya, toh Metro tv, Tv-one, kompas, jawa pos dan lain-lain juga sudah mengabarkan berita itu. media-media itulah yang saya maksud orang ketiga. Itu saja sudah cukup. Kalau kemudian PKS ikut-ikutan membagus-baguskan Partainya, justru itu akan menimbulkan riak-riak di Masyarakat. Bahasa gaulnya membuat rakyat “ilfil”. Kalaupun selama ini PKS sudah bekerja dengan sangat baik untuk kemajuan bangsa, biarlah Allah yang menilai kebaikan itu dan kelak Allah lah yang akan memberikan balasannya. Tidak perlu diunggul-unggulkan, tidak perlu merasa paling bagus, apalagi dengan menjatuhkan rival/lawan politiknya.

Padahal, dahulu saya membayangkan jika di pileg 2014 ini PKS akan menduduki posisi kedua dan berhasil mengusung Pak Hidayat Nur Wahid (politisi yang saya kagumi) itu sebagai capres. Tapi ternyata menurut Quick Count sementara, PKS berada di posisi ke-7. Jangankan untuk capres, cawapres pun berat rasanya. Kenapa bisa demikian? Kenapa suara PKS yang dulu lebih tinggi dari PKB dan PAN kini dibawah mereka? Entahlah.

Saya pun berandai-andai : Andaikan PKS tidak menyebut dirinya Partai paling bersih, andaikan PKS tidak terlalu reaksioner ketika LHI ditangkap, andaikan PKS tak menyerang KPK, PDIP dan Jokowi, andaikan PKS tak menyebut ini-itu konspirasi, adaikan kader/simpatisannya tak fanatik seperti ini, andaikan PKS tak merasa paling baik sendiri. Mungkin… mungkin.. kejadiannya tidak seperti ini.

Sama dengan Partai Demokrat yang “babak belur” karena kadernya di geret KPK. Bahkan jumlahnya tidak hanya satu, nominalnya bahkan jauh lebih fantastis dari dugaan suap LHI. Ditambah internal partai yang goyah, kritik bertubi-tubi pada SBY dan lain-lain. Permasalahan PKS tak se-parah Demokrat. Tapi Partai Demokrat masih memiliki kepercayaan tinggi dari masyarakat dengan menduduki peringkat ke-4. Kenapa? Entahlah.

Saya mengambil satu kesimpulan, dan mungkin juga saran untuk PKS. Bagi pengurus/kader/simpatisan. Saya mohon maaf jika saran saya ini nantinya menyinggung hati. Saya tidak bermaksud demikian. Menurut saya, fanatisme kader/simpatisan PKS yang berlebihan tersebut terlampau over-reaktif. Misalkan saja, ketika media “menyerbu” ramai-ramai Presiden PKS yang diduga terlibat kasus suap daging impor. Ratusan hingga ribuan kader PKS yang di pelopori oleh bang Fahri Hamzah justru menyerbu balik KPK dengan sangat emosional.

Pemberitaan LHI mungkin tidak akan membesar, tidak akan meledak seperti itu andaikan kader/simpatisannya tidak over-reaktif yang menunjukkan fanatisme besarnya ke publik. Ambil contoh saja kasus Andi Malarangeng yang cenderung ‘sepi’ pemberitaan. Dikarenakan kader/simpatisan Partai Demokrat tidak bersifat over-reaktif, bahkan mempersilahkan KPK. Untuk kasus korupsi ini, terlihat betul kedewasaan berpolitik masing-masing elite. SBY sebagai politisi kawakan tentu lebih paham situasi dan bagaimana harus mengambil sikap, kendati Partainya diambang kebangkrutan. Dan buktinya, elaktabilitas Demokrat justru masih diatas PKS.

Yang paling terlihat adalah sikap over-reaktifnya bang Fahri Hamzah. Kenapa bang Fahri cenderung emosional seperti itu? padahal PKS punya tokoh yang cerdas sekaliber Anis Matta, tokoh Ulama yang menyejukkan sekelas Hidayat Nur Wahid, dan juga sosok gaul-modern semisal Pak Tifatul Sembiring. Mohon maaf bang Fahri, bisa jadi suara PKS turun karena sikap panjenengan yang emosional dan over-reaktif, dan itu akhirnya memprovokasi kader/simpatisan di grassroot yang sangat cinta kepada PKS. Sekali lagi mohon maaf, itu hanya pendapat dari saya.

Saya tidak anti-PKS, justru sebaliknya, saya merasa sedih karena pasca-Masyumi, tidak ada lagi Partai Islam yang tangguh dan dipercaya. Harapan itu sempat muncul di Pemilu 2009, dimana PKS berhasil duduk di posisi ke-4. Kala itu, saya sempat optimis jika akan muncul Partai Islam yang kuat, dengan tokoh-tokoh inspiratif dan cerdas, yang memiliki basis massa kuat beserta karakter idiologis yang mencolok. Jujur saja, bagi saya PKS bisa menjadi neo-Ikhwanul Muslimin yang kelak bisa mengajarkan Politik yang lebih damai, integratif dan inklusif. Apalagi dengan indeks prestasi korupsi yang rendah. PKS bisa menjadi kiblat politik Islam di dunia. Pada akhirnya, negara-negara Arab bisa belajar dari Indonesia.

Saya menyarankan agar ada rekonstruksi sikap. Sikap fanatik yang berlebihan harus mulai dibuang, sikap merasa paling unggul dengan merendahkan rival (semisal terhadap Jokowi dan PDIP) juga harus dibuang. Slogan Cinta, Kerja dan Harmoni harus segera digalakkan. Biar saja banyak pihak yang menyerang habis-habisan, toh, ukuran baik buruknya semua kembali kepada Allah yang maha segalanya. Jika PKS yang dalam setiap gerakannya menamakan gerakan Dakwah, namun masih over-reaktif terhadap pemberitaan yang berbau fitnah, itu Paradoks namanya. Jika PKS yang merupakan gerakan Dakwah, namun masih takut citranya jatuh karena pemberitaan negatif media, maka harus segera membuat re-orientasi. Tujuan Dakwah adalah untuk kehidupan Ukhrowi, bukan duniawi. Jika masih takut fitnah, citra jatuh, dan lain-lain, maka itu masih duniawi.

Lima tahun ke depan ini, semoga menjadi pelajaran berharga bagi pengurus/kader/simpatisan PKS. Meskipun banyak yang berharap PKS akan masuk 3 besar dan menjadi Partai Islam yang kuat (meskipun belakangan memilih jalan sebagai Partai Nasionalis-Moderat). Dan di Pemilu 2014 ini, PKS tidak terdepak dari lima besar. Tapi kenyataannya memang berbeda. PKS tengah berjuang untuk bangkit lagi. Harusnya PKS tidak seperti itu. wallohu’alam

Minggu, 09 Februari 2014

ROKOK MEMBUNUHMU : Kok Masih di Jual?

Peringatan tentang rokok kini sudah tidak seperti biasa, aku sendiri baru nyadar perubahan itu pertama kali ketika lihat tayangan iklan rokok di tv. Dimana kala itu aku merasa ada yang aneh, sempat aku lihat juga iklan rokok ada yang menampilkan harga rokok per pcs-nya.
Keanehan itu terjawab di-ending iklan dimana ada pesan Peringatan: Merokok Membunuhmu. Kala itu aku berusaha ambil gambar peringatannya tapi selalu jelek hasil gambarnya karena mungkin efek gelombang apa itu. Contohnya adalah seperti gambar diatas. Kalau di iklan tv pesan peringatan masing-masing produk kayaknya tidak semua sama posisinya karena ada yang nyempil dibawah, ada yang posisi ditengah.
Saat melihat iklan di tv itu aku masih belum jelas selain tulisan peringatan itu ada gambar apa gitu, soalnya kelihatan sangat kecil. Nah, ternyata gak hanya ditv aja yang pesan peringatannya menjadi sedemikian rupa, dibaliho iklan rokok pinggir jalan juga tidak seperti biasa alias berubah juga menjadi
PERINGATAN:
ROKOK MEMBUNUHMU
Dilengkapi dengan gambar pendukung berupa, orang merokok dan 2 tengkorak didekatnya, terus ada juga tanda 18+ didekat tulisan peringatan itu. Kalau lihatnya di tv sumpah gak jelas, gak bakal ngeh terkait ilustrasi gambarnya, tulisan peringatannya itu sendiri kalo gak melek banget juga gak bakal terbaca. Tapi setelah lihat dibaliho pinggir jalan aku baru ngeh ada tanda 18+ dan gambar orang merokok beserta 2 tengkorak. Gambarnya kurang lebih seperti ini (kalau iklan ditv “Peringatan: Merokok Membunuhmu” tapi contoh baliho ini “Peringatan: Rokok Membunuhmu”):

Kalau menurutku, ini menurutku loh ya! Selaku bukan pakar periklanan, merasa bahwa “Peringatan: Rokok Membunuhmu” itu membingungkan, cinderung terasa garing, gak serem gitu.
  • Membingungkan
  1. Setauku, iklan rokok itu dilarang menunjukan orang yang sedang merokok gitu, lah itu ilustrasinya jelas-jelas nunjukin orang lagi merokok.
  2. Peringatanan tapi bisa terasa seperti menganjurkan, yakni lingkaran yang didalamnya ada angka 18+ itu seolah menganjurkan merokoklah ketika sudah 18+ (18 tahun keatas), atau bisa berarti boleh merokok setelah 18+. Atau bahkan berarti peringatan itu hanya berlaku untuk 18 tahun keatas, yang padahal sekarang dibawah 18 pun sudah banyak yang merokok. Ah entalah….
  • Cinderung terasa garing
Peringatan: rokok membunuhmu, ini gak terasa sedang mengingatkan sih, kalo aku selaku bukan perokok merasa lebih diingatkan dengan pesan lama:

Jadi ya peringatan yang baru cinderung tarasa garing gitu, memang singkat sih pesannya tapi gak jelas, gak mak jleb gitu, sama-sama membunuh, lebih mak jleb kata d’masiv “cinta ini membunuhku” *eaaaaa
  • Gak Serem
Aku sih paham maksud gambar tengkorak itu adalah untuk membuat efek serem, tapi dimana rasa seremnya? Perokok mana takut? Se esek-eseknya film hantu Indonesia kayaknya lebih serem hantu-hantu film ketimbang gambar tengkorak itu.
Tulisan ini hanya menurutku belaka loh ya, Peringatan: Merokok Membunuhmu! Gimana menurutmu? Kalau soal berpengaruhkah perubahan peringatan itu bagi masyarakat ya entalah, tapi sepertinya gak akan begitu berpengaruh. Dan lagi kalau perokok sejati pasti ada aja alasanya, misal: merokok gak merokok nanti juga bakal mati atau apalah gitu. Jika sekedar peringatan semacam itu mungkin cinderung terabaikan.
Merokok atau tidak merokok kembali kepribadi masing-masing, tapi tetep lebih baik tidak merokok sih, kalaupun merokok setidaknya merokok itu pada tempatnya, kayak buang sampah dong? Ya memang begitu harusnya, ada etikanya gitu.
Tapi kalau ku pikir-pikir lagi. Kalau memang Rokok Itu membunuh, KENAPA MASIH DI JUAL???

FAHMI DAN THE BLUES "CHELSEA"


Ada apa antar Fahmi dan Chelsea? Sebuah pertanyaan yang sering diajukan kepadaku. Mengapa begitu senang terhadap klub ini?

Baiklah, semua orang terutama laki-laki di dunia ini pasti begitu menyukai bahkan hobby untuk memainkan olahraga ini. Termasuk aku, yang sejak kecil sering untuk bermain bola. Bahkan dulu, jam pelajaran sekolah kalau guru tidak masuk maka aku dan teman-teman menyempatkan untuk bermain bola.

Nah, kenapa begitu memfavoritkan Chelsea? Klub berjuluk The Blues ini sudah aku sukai sejak eranya Ruud Gullit ketika menjadi pelatih. Dimana salah satu pemain bintangnya adalah Gianfranco Zola. Artinya, aku menyukai klub ini sebelum eranya Abramovic yang kini sebagai pemiliknya. Sekitar tahun 1990-an. Saat itu aku masih SD. Kenapa bisa suka? padahal waktu itu siaran langsung sepakbola masih di kuasai Liga Italia bukan liga Inggris. Maka aku mencari informasinya lewat koran dan majalah.
Ketertarikan kepada Chelsea hanyalah soal warna. Aku begitu menyukai warna biru. Warna yang syahdu kurasa. Bahkan sangat menyenangi Chelsea ketika level permainannya meningkat setelah dibeli orang kaya Rusia, Roman Abramovic. Maka semakin sukalah aku dengan Chelsea. Selesai eranya Zola, masuk Frank Lampard yang juga sempat bermain bersama Zola.

Bukan dipungkiri, era Chelsea sudah saya ikuti sejak lama. Pahit getir, suka duka pun saya ikuti. Ya karena soal warna kita sama. Itu saja!
#KeepTheBlueFlagFlyingHigh
#CFC

Senin, 13 Januari 2014

LALU KENAPA?

DI BELAKANGKU ADA PENGALAMAN TAK TERNILAI, TEMPATKU UNTUK BELAJAR...

DI DEPANKU ADA KEMUNGKINAN TAK BERAKHIR, TEMPATKU UNTUK BERJAYA...

DI BAWAHKU ADA KESEMPATAN TAK TERHITUNG, TEMPATKU UNTUK TANAM PELUANG.. 

DI ATASKU ADA KEKUATAN TAK TERKALAHKAN, TEMPATKU BERNAUNG.. 

DI HATIKU ADA KEYAKINAN TAK TERBENDUNG, TEMPATKU BERKETETAPAN.. 

DIPIKIRANKU ADA POTENSI TAK TERBATAS, TEMPATKU UNTUK BERKARYA.. 

LALU KENAPA AKU HARUS TAKUT MENGARUNGI DUNIA ???????

Jumat, 03 Januari 2014

TOMAT : Si Merah Kaya Manfaat

Tomat yang memiliki nama latin Lycopersicum esculentum Mill adalah tanaman yang berasal dari Amerika Latin. Buah tomat memiliki rasa yang sedikit asam dan sering digunakan untuk campuran masakan seperti sup, semur, dan sambal tomat agar rasanya lebih sedap. Kadang juga dimakan begitu saja sebagai lalap atau camilan.
Saya sendiri biasa mengkonsumsi tomat dengan cara dipotong-potong lalu ditaburi sedikit gula pasir atau dimakan mentah-mentah. Rasanya sangat menyegarkan.  Anda juga bisa membuat tomat sebagai jus dengan cara diblender.

Salah satu senyawa yang paling banyak terkandung dalam buah tomat adalah betakaroten, terutama likopen, yang oleh tubuh likopen ini diubah menjadi vitamin A. Bersama vitamin C dan vitamin E yang terkandung, membuat tomat memiliki sifat antioksidan.
Penelitian menunjukkan likopen akan lebih optimal diserap oleh tubuh setelah diolah, entah menjadi sup atau saus tomat. Jadi, tambahkan tomat pada masakan Anda sehari-hari.


Selain bermanfaat sebagai bahan makanan untuk dikonsumsi, ternyata tomat juga memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh. Berikut ini beberapa manfaat tomat untuk kesehatan yang saya kutip dari berbagai sumber.

Mencegah Kanker

Laporan dari Journal of National Cancer Institute mengatakan, kaum pria pengonsumsi 10 porsi makanan berbahan dasar tomat jarang terkena kanker prostat. Diperkirakan berkat kandungan likopen.

Bukan cuma kanker prostat, penelitian dari Universitas Illinois pun menunjukkan, tomat dapat menghindari gejala kanker rahim. Begitu juga kanker lambung, usus besar, rektum, dan pankreas.

Mecegah Penyakit Jantung

Penelitian terhadap para pria Eropa menunjukkan, mereka yang dalam tubuhnya memiliki kadar likopen tinggi, jarang terkena serangan jantung. Kandungan asam salisilat juga mampu mencegah pengentalan darah.

Melancarkan Pencernaan

Tomat yang kaya serat, air, dan mineral membantu proses pencernaan. Mineralnya merangsang pengeluaran air liur sehingga menambah nafsu makan. Kandungan asam malat dan asam sitratnya membantu mencgah terbentuknya batu empedu. Dengan sifatnya yang antiradang berkat zat tomatin, tomat dapat mencegah radang usus buntu dan saluran pernapasan.

Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Tomat dapat membantu, mencegah asam urat. Vitamin A dan C pada tomat dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Demikian beberapa manfaat jika mengkonsumsi tomat.

BUKAN SEKEDAR MENGENANG

Lucu, senang, bahagia, muram, sedih, tertekan, bingung, stress, linglung, berhasil dan segala macam bentuk ekspresi lainnya tidak satupun orang yang tidak pernah mengalaminya. Begitu juga dengan diriku, terutama ketika berkecimpung di dunia pergerakan. Dengan mengusung sebuah cita-cita, bersama sahabat-sahabat melewati hari-hari yang penuh warna.

Di sini, aku menyebutnya Universitas Kehidupan. Ya.. Pelajar Islam Indonesia (PII). Wadah yang aku kenal dan di dalamnya aku melalui proses yang cukup panjang. Sejak 2003 atau semenjak kelas 1 SMA. Mengajarkan bagaimana bersosial, berinteraksi dengan orang lain, baik teman, masyarakat bahkan dengan orang tua.

Entah mengapa, hari ini begitu terkenang dengan aktifitas-aktifitas ketika dulu masih aktif berproses. Ku rasa ada benarnya kalimat bijak para alumni sebelum aku, pada masanya nanti engkau akan merasakan rasa rindu yang mendalam terhadap PII tapi dengan syarat "Nikmati selama kamu berproses di PII". Kesimpulan sederhanaku, apapun onak dan duri yang engkau hadapi, nikmati sajalah karena pada masanya nanti engkau akan begitu manis mengingatnya. Benar, memori ingatanku terbuka ketika mengingat proses-proses itu. Proses pahit manis yang kesemuanya penuh dengan hikmah dan pelajaran bagi hamba-Nya yang berpikir.
Teringat ketika menjadi Ketua Bidang Dakwah Pembinaan Masyarakat Pelajar (DPMP) PD PII Tebing Tinggi periode 2002-2003. Ketua Umum PD PII Tebing Tinggi Periode 2003-2004. Sekretaris Umum Pengurus Wilayah PII Sumatera Utara Periode 2005-2007. Ketua Umum PW PII Sumatera Utara Periode 2007-2009. Pemimpin Redaksi ESENSI PW PII Sumatera Utara Periode 2009-2011.

Kalau diingat, tidak semua amanah yang aku emban berhasil. Bahkan gagal terutama ketika menjadi Ketua Umum PW PII Sumatera Utara. Namun aku tidak malu untuk mengenangnya, karena itulah proses. Dan pelajaran itu sungguh melekat.

Teringat ketika selesai Pelatihan Instruktur di Banda Aceh Mei 2006. 2 bulan kemudian langsung terjun ke dunia training diamanahi menjadi instruktur observer dan penghubung karena penyelenggara trainingnya adalah PII Tebing Tinggi. Bahagia karena di sekolah itulah aku pertama kali mengenal PII dan ditraining, di sekolah itulah juga pertama kalinya kau mentraining calon kader PII.

Ah.. Kenangan yang penuh pelajaran.. Bekal bagi hamba yang berpikir...

Minggu, 17 November 2013

#NEGERI NOL KOMA SETENGAH

Di sini, di #NegeriNolKomaSetengah. Negeri yang tidak ada di alam nyata apalagi di alam maya namun ada di Qolbu tiap penduduknya. Negeri yang dihuni penduduk yang mempunyai "azzam". "Azzam" yang sudah tertanam jauh sebelum di lahirkan. "Azzam" yang sudah diikrarkan ketika Sang Penguasa Negeri bertanya, "alastu birobbikum??", maka calon-calon penduduk #NegeriNolKomaSetengah pun berikrar, "Qoolu bala syahidnaa!".

Di sini, di #NegeriNolKomaSetengah. Penduduknya yang merasa tidak kesusahan. Yang ketika di timpa musibah dia bersabar. Yang ketika diberikan kenikmatan dia bersyukur. Mereka tidak merasa kesusahan. Karena bagi mereka, mereka yakin dibalik musibah ada kebahagiaan. Jika dipotong satu rezeki maka Sang Penguasa akan menggantinya 2 kali lipat bahkan lebih. Mereka senang dengan gelar yang diberikan Sang penyampai risalah bahwa Penduduk #NegeriNolKomaSetengah itu luar biasa mengagumkan. Penduduk yang tetap senang bagaimanapun keadaannya.

Di sini, di #NegeriNolKomaSetengah. Tertanam impian dan cita. Negeri yang Baldhatun Toyyibatun WaRabbun Ghofuur...

Di sini, di #NegeriNolKomaSetengah...

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kenapa Harus Di Jelekkan?

” Mengapa engkau tidak tatap langit yang biru dengan awan seputih kapas yang indah, atau engkau tatap bukit yang hijau dengan lereng yang indah……?. Gemercik air yang mengalir indah, atau engkau bangun pada malam hari, engkau tatap langit dengan taburan bintang dan bulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. atau, engkau bangun dengan suara jangkrik dan katak bersahutan indah. Lalu kenapa hati yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan. padahal, jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. kalau alam ini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah “.
Sungguh indah kata-kata beliau; menggugah kesadaran untuk senantiasa menjaga hati ini dari segala macam bentuk kejelekan dan prasangka.
Semoga kebaikan dan keindahan selalu menghiasi hati dan kepribadian kita semua.

Rabu, 09 Oktober 2013

Selebrasi Sujud Syukur : "Teladan yang Baik"

Ada yang berbeda dari Timnas U-19, tentu saja hal yang tidak biasa diperlihatkan punggawa Sepakbola TimNas Indonesia. Setiap penggila bola Indonesia pasti terpana dan kagum akan sikap punggawa TimNas U-19 ini. Sujud syukur yang selalu diperlihatkan TimNas saat menjebol gawang lawan ataupun saat memenangkan laga. Adalah wujud rasa bahagia mereka kepada ALLOH.

Sebenarnya hal ini adalah sesuatu langka terjadi kepada TimNas. Sangat jarang rakyat Indonesia melihat pemain TimNas melakukan selebrasi seperti ini. Dalam pemberitaan Kita lebih banyak disuguhkan kebiasaan-kebiasaan TimNas senior yang tidak patut ditiru seperti Lukisan tato yang mewarnai tubuh mereka ataupun kegiatan malam di diskotik . Hal ini Bisa kita lihat terhadap Syamsir alam, Irfan Bachdim yang memperburuk tubuh mereka dengan tato dan Diego Michelle yang terlibat kasus hukum akibat tindakan kekerasan fisik. seharusnya mereka bisa menjadi panutan bagi para remaja Indonesia ternyata belum.

Alhamdulillah Selebrasi sujud ini juga diperlihatkan salah satu punggawa TimNas U-23 saat menjebol gawang Palestina melalui titik pinalti. Semoga rakyat Indonesia selalu melihat suguhan selebrasi yang selalu mengingatkan kita kepada kebesaran ALLOH SubHanahu Wa ta’ala.

Jayalah BangsaKu… Jayalah Negriku ….

Sabtu, 11 Mei 2013

PERMAINAN

Anggap saja ini permainan yang harus diselesaikan. Terserah mau level berapa yang harus diselesaikan. Level 1, 2, 3, 4, 5 bahkan 100! Adanya level mengumpamakan sejauh mana usaha yang telah kamu lalui. Sejauh mana daya upaya yg telah kamu tempuh. Sejauh mana doa dan harapan yang telah kamu utarakan.

Bermain itu asyik, bermain itu menyenangkan. Selama dalam aturan yang sudah ditetapkan sebelum bermain. Maka akan menjadi menyenangkan. Kalau ada yang menganggap bermain itu tidak mengasyikkan dan menjenuhkan, berarti tidak memahami aturan bermain. Tidak mengikuti cara bermain. Kalau bermain sering kalah, itu wajar. Karena semua butuh usaha, dan hasil tergantung usaha

Tetapkan target, ingin ke level berapa permainan itu akan berakhir. Kalau gagal, mencoba kembali.
Permainan itu adalah "Kehidupan".

Jumat, 03 Mei 2013

BANGKITKAN GHIRAH KITA!

Pelajar Islam Siaplah Sedia
Majulah Ke Muka
Agama Kita
Kembangkan dengan Seksama
 
Putra dan Putri 
Insyafkan rakyat semua
Dalam memeluk Agama 
Islam Nan Jaya

Tegak Berdiri
Pelajar Islam Indonesia
Dengan sentosa
Putra dan Putrinya Siap Membela Bangsanya

Bercita-cita
Pelajar Islam Indonesia
Dengan teguhnya
Membina negara Jaya Indonesia

Kumpulan bait lagu yang dijadikan Mars Pelajar Islam Indonesia (PII) diatas sudah barang tentu kita hafal selaku kader. Tidak sedikit dari Kader juga yang tau dan paham maksud lagu penyemangat ini. Tertanam didalamnya harapan, cita-cita serta tujuan keberadaan Pelajar Islam Indonesia.

Kini 66 Tahun sudah PII hadir di Negeri Indonesia. Lahir 04 Mei 1947 dengan semangat menyatukan pelajar dari jurang pemisah akibat ulah kafir penjajah Belanda. Semangat menggelorakan Islam yang rahmatan lil alamiin, menjadikan PII wadah yang cukup efektif dalam pembinaan pelajar. Cukup banyak sepak terjang yang telah diperbuat, termasuk saat-saat perlawanan terhadap Komunisme.

Tapi itu masa lalu, kita tidak berbicara romantisme sejarah PII yang cukup andil terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun sepantasnya, kita belajar dari para pendahulu Pelajar Islam Indonesia (PII) yang memiliki semangat atau ghirah yang luar biasa dalam wadah Pelajar Islam Indonesia (PII). Demi tegaknya Izzul Islam walMuslimin, para pendahulu kita mengorbankan pikiran, tenaga, harta untuk mewujudkan tujuan bersama.

Ironi memang, semangat itu kini sangat luntur (kalau tidak mau dibilang hilang). Ghirah perjuangan kini memudar bahkan hilang dari hati sanubari kader. Ghirah ukhuwah, pantang menyerah, tanpa kenal lelah, dan terus berupaya. PII cukup dikenal akan hal itu. Hingga tercetuslah motto "Tandang ke Gelanggang Meski Seorang". Saat ini kita semakin mennjauh dari hal-hal tersebut.
 
Kini, kita tidak bisa berbicara masa lalu lagi. Saat ini kita berbicara hari ini. PII ditangan kita, mau diapakan dan akan kita bawa kemana kapal Pelajar Islam Indonesia (PII) ada pada kita sebagai nakhoda. Untuk itu, kembalikan ke tujuan semula, "izzul Islam walmuslimin" sebagai ghirah kita dalam berorganisasi.

Jauhkan diri dari pertanyaan, untuk apa kita di PII? percayalah, jawaban itu tidak akan kita temukan ketika kita masih aktif di kepengurusan. Mungkin saja akan kita dapatkan setelah kita beraktifitas dalam profesi kita masing-masing, yang pada akhirnya kita akan merindukan PII.

Selamat Hari Bangkit PII ke-66!
PII Siap
PII Jihad
PII Allahu Akbar

Kamis, 02 Mei 2013

SENDIRI

Sendiri itu indah, bila berdua selalu ada masalah..
Sendiri itu nikmat, bila berdua tak ada mufakat..
Sendiri itu tenang, bila berdua bertentangan..
Sendiri itu berarti, bila berdua tak saling mengerti..
Sendiri itu perlu, bila berdua tak membantu..
Sendiri itu penting, bila berdua saling berpaling..
Sendiri itu bahagia, bila berdua tak saling merasa..


Pada saat-saat tertentu kita harus memberi ruang untuk kesendirian kita..

Selasa, 30 April 2013

TANPA JEJAK

Rasa lapar menyerang. Ternyata waktu menunjukkan pukul 20.30. Sedikit terlambat, karena biasanya di saat jam-jam tersebut saya sudah tidak merasakan perut yang keroncongan. Namun, karena sorenya terlalu banyak makan cemilan gorengan akhirnya rasa lapar di malam hari tertunda.

Tidak seperti biasanya juga, beras untuk makan malam ini belum dimasak mungkin karena malas menyerang. Akhirnya diputuskan untuk membeli saja di warung nasi. Ku hentakkan pedal "Azzam", sepeda motor kesayanganku dan segera melaju ke warung nasi yang biasa saya kunjungi.

Sampai di tempat yang dituju, tampak ada yang berbeda dari biasanya. Kenapa saya katakan berbeda dari biasanya? karena hampir setiap hari, siang dan malam aku membeli di tempat ini. Namun, karena untuk mengurangi beban cost yang terlalu besar saya putuskan untuk memasak saja di rumah.

Saya tidak melihat Bapak (Pak etek biasa saya memanggilnya) yang biasa melayani para pelanggan setianya, tidak terlihat lagi seorang Ibu (Saya memanggilnya Bunda), tidak terlihat lagi pekerjanya yang selalu menyambut saya, satu lagi, saya tidak lagi melihat tulisan Serba 6000 yang terpampang di steling kaca pemajang makanan.

Rasa bertanya-tanya muncul di dalam hati, memperhatikan perbedaan yang ada di sekiliing warung, melihat para pramusaji yang lain dari biasanya. Setelah memesan makanan dan sambil memberikan secarik uang sesuai harga makanan yang kubeli. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, kuberanikan diri untuk bertanya kepada kasir.

+ Pemiliknya ganti ya mbak?
- Iya
+ Sudah lama?
- Sekitar 1 bulan
+ Jadi ini dijual atau disewakan sementara?
- Di jual
+ Pemilik yang lama kemana?
- Kurang tau bang...

Ya.. Saya merasa kehilangan. Tanpa jejak yang berarti. Pikiran terus digelayutin pertanyaan-pertanyaan. Kemana Pak Etek? Kemana Bunda? Kemana Ara? (Ara adalah gadis kecil yang setiap saya ke warung selalu menjahili). Begitu kehilangannya saya adalah bukan karena rasa masakannya yang begitu pas dilidah saya, bukan juga karena saya bisa makan tanpa perlu membayar dahulu jika tidak memiliki uang, tapi karena rasa kekeluargaan yang terbangun selama ini.

Mereka keluarga kecil yang begitu bersahaja, sederhana, dan terlalu baik kepada saya. Kesamaan darah Minang yang mengalir di darah kami semakin menguatkan rasa kekeluargaan itu. Namun kini, mereka sudah pergi tanpa jejak. Saya hanya dapat berdoa, semoga bisa dipertemukan kembali kepada mereka seraya berdoa semoga Allah memudahkan urusan mereka, mengampuni segala dosanya dan tetap dalam lindungan Allah SWT.

Tinggalkan Jejak...

Minggu, 28 April 2013

KEKALAHAN DALAM BERPIKIR

“Ahmad ditugasi oleh oleh orang tuanya untuk membuat pagar baru untuk menggantikan pagar lama yang terbuat dari bambu yang telah usang dan menggantinya dengan pagar besi. Ahmad yang seorang siswa SMK dipandang orang tuanya memiliki kemampuan untuk mengerjakan tugas itu karena segala bahan dan peralatannya sudah ada.

Namun, Ahmad menolak tugas tersebut dengan alas an khawatir kalau pekerjaanya tidak berhasil. Mungkin pagarnya tidak kuat, hasilnya yang kurang menarik, ataupun alasan lainnya. Alhasil, pagar yang diidam-idamkan orang tuanya tidak pernah terpenuhi.”

Kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus dari berbagai kasus dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan setiap kita pasti pernah bahkan sering menghadapi hal yang serupa. Dalam memulai pekerjaan ataupun menerima amanah dari orang lain, kita terkadang terlebih dahulu berfikir, “Apa mungkin bisa?, Bagus atau tidak ya hasilnya?” dan lain sebagainya yang akhirnya dari pemikiran seperti ini mengakibatkan pekerjaan atau amanah tersebut tidak jadi dilaksanakan.

Bentuk pemikiran seperti ini dalam bahasa penulis adalah kekalahan dalam berfikir. Kita sering terbentur dengan kalimat-kalimat, “Ah, Saya tidak bisa!, Itu pasti susah!” dan lain sebagainya. Padahal pekerjaan itu belum tentu susah seperti yang kita bayangkan. Analogi sayur asam, bahwa kita akan tahu bahwa rasa sayur tersebut asam ketika kita sudah mencicipinya atau mencobanya sendiri dan bukan kata orang maka baru kita menyatakan bahwa sayur itu asam. Nah, begitu juga dalam sebuah pekerjaan atau amanah yang kita terima bahwa tingkat kemudahan dan kesulitan baru akan kita rasakan apabila kita sudah melalui proses pekerjaan tersebut.
Allah SWT menyatakan hal ini di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya.

Oleh karena itu, apakah sekarang akan terus ragu dengan kemampuan yang kita miliki??? Apakah kita akan selalu menyatakan tidak bisa??? Apakah kita akan selalu kalah dalam berfikir??? Mulailah dari hal yang kecil. 

Wallahu A’lam bi Showaf.

BERPIKIR SEDERHANA

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

a

We are Not Just Friend But Family


Apa sih arti dari sebuah persahabatan?? Ada yang bilang sahabat itu adalah teman yang benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita. Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu bareng. Tetapi salah satu sahabat saya bilang, sahabat itu adalah teman dalam suka dan duka, tapi tahu batas dimana suatu saat ketika teman dapat masalah, kita harus membiarkan dia mengatasi masalahnya sendiri agar teman tersebut tumbuh lebih matang dan mandiri.

Terkadang saya dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya. Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat saya yang berhubungan dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, saya bingung jawabnya. Dari situ saya berikir, apa saya ini sahabat yang baik? Apa saya pantas disebut sahabat? Karena saya menganggap sahabat adalah orang yang bisa melihat kita dari hati ke hati, bukan karena tampang, materi, latar belakang, pendidikan dan lain-lain. Karena itu saya memang jarang menanyakan hal-hal yang berbau privacy ke sahabat-sahabat saya. Saya lebih sebagai pemberi masukan dan penerima keluh kesah sahabat-sahabat saya. Bukannya saya orang yang nggak peduli dan nggak mau tau, tapi menurut saya persahabatan bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan sedalam apa kita memahami orang tersebut. Saya sudah ngerasain pahitnya persahabatan ketika saya bilang dia sahabat saya, ternyata dia hanya memanfaatkan apa yang saya punya dan lain-lain. Ketika saya sedang jatuh, dia malah meninggalkan karena merasa ga ada yang bisa diberikan oleh saya.

Tapi yang terpenting dari seorang sahabat adalah ketika kita mampu menempatkan diri disaat dalam keadaan suka maupun duka. Terkadang kita menghadapi sahabat-sahabat yang dalam keadaan suka, begitu juga sebaliknya. Nah, bagaimana kalau dua orang sahabat kita mengalami keadaan suka dan duka yang bersamaan? Disinilah fungsi sahabat, mampu menempatkan dirinya dengan sebaik mungkin.

Hal inilah yang baru saya alami beberapa hari ini, tepat tanggal 27 April, dua orang sahabat saya mengalami keadaan suka dan duka bertepatan. Salah seorang harus ditinggal ayahnya meninggal dunia karena sakit, sementara seorang lagi melepas masa lajangnya alias menikah. Sebagai seorang sahabat, saya harus mampu membagi waktu, tenaga, mungkin juga pikiran bagaimana kedua sahabat ini dapat dikunjungi tanpa mengurangi makna keduanya. Alhamdulillah, keduanya dapat terkunjungi dan saling mendoakan atas peristiwa yang dialami.

Sahabat... Kita dianggap sahabat bukan karena adanya pengakuan lisan dari orang lain bahwa kita adalah sahabatnya, akan tetapi adanya kehadiran kita ketika suka dan duka menghampiri.

Wallahu a'lam bishowaf

Jumat, 26 April 2013

UPACARA BENDERA

Sebuah sekolah mengadakan upacara bendera yang rutin diadakan setiap hari Senin. Murid berbaris dengan rapi dibawah terik matahari menyengat. Tak ketinggalan guru-guru berbaris sejajar di bawah teras sekolah. Rukun-rukun upacara pun berlangsung tertib dan penuh hidmat. Tak lama, upacara pun selesai dan barisan dibubarkan. Tampak murid berpeluh keringat. Ada yang mengipas, ada yang mencari minuman untuk sekedar menghilangkan dahaga. Begitu juga para guru. Masing-masing duduk mengatur nafas di ruang guru.

Jam pelajaran pun di mulai. Di sebuah kelas, seorang guru sudah duduk di mejanya seraya mengajak murid untuk memulai pelajaran. Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia dan materinya adalah Cita-Cita. Guru memulai dengan bertanya kepada murid-muridnya.

Guru : Delvi, kalau sudah besar ingin menjadi apa?
Delvi : Ingin menjadi seorang Akuntan Bu..
Guru : Wah, cita-cita yang bagus sekali.. Rajin belajar ya..
           Sekarang kamu, Wilda. Kamu ingin menjadi apa?
Wilda : Ingin menjadi Sarjana Pertanian Bu..
Guru : Ya, Bagus.. Kamu Icha?
Icha : Ingin menjadi Guru Bu, Seperti Ibu. Agar tiap upacara bisa di bawah teras sekolah.
Guru : ***** Baik anak-anak kita lanjutkan pelajaran kita...

Masihkah Guru yang di Gugu dan di Tiru?
Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata gugu, menggugu diartikan mempercayai, menuruti, mengindahkan. Artinya secara garis besar kita bisa ambil kesimpulan bahwa guru adalah sosok yang dipercayai, dituruti, diindahkan perkataannya oleh kita sebagai muridnya. Tentu dengan catatan bahwa perkataannya adalah perkataan yang baik, dapat dipertanggung-jawabkan (tidak melanggar norma agama dan norma-norma kebaikan yang berlaku dimasyarakatnya).

Ditiru, apa yang ditiru dari seorang guru?, tentu saja perilakunya sebagai seorang guru. Perilakunya yang ditiru pun tidak terlepas dari norma agama dan norma-norma kebaikan yang berlaku dimasyarakat.
Apa yang terjadi jika kemudian ternyata guru yang seharusnya digugu dan ditiru malah berbuat tidak selayaknya seorang guru?, bahwa perkataannya tidak layak dipercayai, dituruti apalagi diindahkan, juga ditiru perilakunya. Tentu saja bagi murid yang belum mampu atau tidak bisa menyaring perkataan dan perilaku gurunya akan mengikutinya tanpa ia sadari bahwa itu sebuah kesalahan.

Tak heran jika kita kini banyak menyaksikan “murid-murid” yang menjadi liar, senang tawuran, terlibat penggunaan obat-obat terlarang, mabuk-mabukan, berjudi, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.
Salah satunya disebabkan oleh semakin berkurangnya sosok yang bisa digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Bila kita melihat guru di institusi pendidikan, walau kita tidak bisa menyamaratakan, tetapi hilangnya jiwa mendidik dari seorang guru hingga hanya tertinggal jiwa mengajarnya saja, itupun kalau tidak terpotong oleh kebiasaan ngerumpi sesama guru diwaktu jam belajar dengan meninggalkan catatan dipapan tulis.

” Entahlah ini mungkin dampak dari komersialisasi dunia pendidikan, sehingga guru dipaksa untuk menjadi pedagang bukan untuk menjadi pendidik? “