Zulfahmi Abdillah

Urang Minang yang Lahir di Tanah Batak

I Won't Give Up

Indak ado kato manyarah sabalun mancubo. Darah Minang itu Padeh!

With Azzam

Bersama Melewati Hari Penuh Makna

Belajar Bersama Alam

Belajarlah.. Pada masanya Alam akan mewisuda dirimu...

Menjaring Matahari

Ringan Bukan Berarti Mudah. Berat Bukan Berarti Sulit.

Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

PERMAINAN

Anggap saja ini permainan yang harus diselesaikan. Terserah mau level berapa yang harus diselesaikan. Level 1, 2, 3, 4, 5 bahkan 100! Adanya level mengumpamakan sejauh mana usaha yang telah kamu lalui. Sejauh mana daya upaya yg telah kamu tempuh. Sejauh mana doa dan harapan yang telah kamu utarakan.

Bermain itu asyik, bermain itu menyenangkan. Selama dalam aturan yang sudah ditetapkan sebelum bermain. Maka akan menjadi menyenangkan. Kalau ada yang menganggap bermain itu tidak mengasyikkan dan menjenuhkan, berarti tidak memahami aturan bermain. Tidak mengikuti cara bermain. Kalau bermain sering kalah, itu wajar. Karena semua butuh usaha, dan hasil tergantung usaha

Tetapkan target, ingin ke level berapa permainan itu akan berakhir. Kalau gagal, mencoba kembali.
Permainan itu adalah "Kehidupan".

Kamis, 02 Mei 2013

SENDIRI

Sendiri itu indah, bila berdua selalu ada masalah..
Sendiri itu nikmat, bila berdua tak ada mufakat..
Sendiri itu tenang, bila berdua bertentangan..
Sendiri itu berarti, bila berdua tak saling mengerti..
Sendiri itu perlu, bila berdua tak membantu..
Sendiri itu penting, bila berdua saling berpaling..
Sendiri itu bahagia, bila berdua tak saling merasa..


Pada saat-saat tertentu kita harus memberi ruang untuk kesendirian kita..

Rabu, 24 April 2013

SYUKUR

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan. Kata-kata tersebut merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Dan ada cerita lainnya yaitu mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab: saya mempunyai 2 anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat berbahagia karena dapat berjumpa dengan anak ke 2 saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya disurga. Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu. Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih, kerena itu kamu telah membuat suatu perbedaan. Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat, karena itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga. Dengan rasa bersyukur dapat mengubah hal negatif menjadi positif.

DUA EKOR "SINGA"

Suatu sore di tengah telaga terlihat dua orang yang sedang memancing. Tampaknya mereka ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu bersama. Diatas perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan membentuk riak. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap sayap angsa yang sedang berenang beriringan. Suasananyapun begitu tenang hingga terdengar sebuah percakapan.
“Ayah”
“Hmm…ya.” Sang ayah menjawab perlahan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.
“Beberapa malam ini,” ucap sang anak, “ aku bermimpi aneh.
Dalam mimpiku ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigi mereka terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan mengeram seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.”
Anak muda ini terdiam sesaat, lalu melanjutkan ceritanya. “ Singa yang pertama terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Tubuhnya pun kokoh, bulu-bulunya teratur rapih. Walaupun suaranya terdengar keras, tapi menenangkan buatku.”
Ayah menoleh lalu meletakan pancingnya di pinggir haluan.
“Tapi, Ayah, singa yang satu lagi menakutkan. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana kemari. Punggungnya kotor. Bulu-bulunya ada yang koyak. Suaranya lantang namun parau dan menyakitkan.”
“Aku bingung, apa maksud dari mimpi itu. Apakah singa – singa itu gambaran dari sifat – sifat baik dan buruk yang aku miliki ? Dan singa mana yang akan memenangkan pertarungan itu karena nampaknya mereka sama – sama kuat ?”
Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda gagah di depannya. Sambil tersenyum, si ayah berkata, “Pemenangnya adalah yang paling sering kau beri makan.”
Ayahnya tersenyum dan kembali mengambil pancingnya. Lalu dengan satu hentakan kuat di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran – pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap – sayap angsa putih di tepian telaga.
Sahabat, begitulah adanya. Setiap diri kita punya dua ekor ‘singa’ yang selalu bersaing. Keduanya selalu berusaha untuk saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lain. Pertarungan diantara mereka tak pernah tuntas karena selalu saja terjadi pergiliran kemenangan. Kalah menang dalam persaingan itu layaknya mata koin yang selalu berganti – ganti. Dan kita sering di buat bingung, sebab kedua kekuatan baik – buruknya ini terlihat sama kuatnya.
Tapi siapakah pemenangnya saat ini dalam dirimu ? Singa yang kokoh dengan bulu – bulu teratur ataukah singa yang berbulu koyak dan menakutkan ? Lalu singa macam apa yang menguasaimu ? “Singa” yang optimistis, pantang menyerah, tekun, sabar, rendah hati, cinta damai dan toleran ataukah “singa” yang bringas, mudah emosi, sombong dan arogan ?
Saya percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua singa itu. Jika kita sering memberi ‘makan’ pada singa yang yang tenang tadi maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa untuk memupuk optimisme dan pantang menyerah, maka ‘singa’ yang tenang akan memberikan keberhasilan. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam marah, mudah curiga dan berprasangka, sombong dan sering tak sabar, maka jelaslah ‘singa’ macam apa yang akan jadi pemenangnya.
Sahabat, biarkan “singa – singa” penuh semangat hadir dalam jiwamu. Rawatlah dengan keluhuran budi dan kebersihan nurani. Sisirlah bulu – bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat punggungnya dengan optimisme dan pertajam selalu kuku – kuku kesabarannya. Biarkan ia menjadi pemenang. Singa yang kokoh, dengan bulu – bulu yang teratrur rapih, kuku yang tajam, suara yang lantang namun tetap tenang dan tegas.
Namun jangan biarkan ‘singa – singa’ pemarah menguasai pikiranmu. Jangan pernah berikan kesempatan bagi kesombongan untuk menjadi besar dan menghalangi keberhasilanmu. Jangan biarkan tinggi hati, kedengkian, emosi dan dendam memimpin hatimu.

Selasa, 23 April 2013

LOKET TIKET

Kemarin ketika hendak pergi ke Rantau Prapat saya memilih untuk menaiki kereta api yang bagi kantong "minimal" merupakan alat transportasi paling efisien jika kita pergi ke Rantau Prapat. Ada dua macam tiket yang bisa dipilih untuk menuju ke sana, kelas Bisnis dan kelas eksekutif dan tidak ada pilihan lain.

Selama perjalanan, satu hal yang selalu saya pikirkan adalah ternyata dunia ini diciptakan dengan fungsi sebagai loket. Kita tahu, di loket tiket tersedia tiket dengan berbagai macam jenis, yang kelas bisnis dan kelas eksekutif sampai kelas "kambing" pun ada. Mana yang kita pilih? Terserah kita mau pilih dan beli yang mana karena masing-masing tiket sudah jelas posisi dan keadaannya. Inilah kata kunci dari fungsi loket tiket. Tempat kita memilih dan membeli.

So, di loket tiketlah sesungguhnya nasib kita ditentukan. Sebanyak apapun uang yang kita bawa, jika sudah memilih dan membeli tiket lalu kita masuk ke kereta api, maka kita akan menduduki tempat sesuai dengan pilihan tiket yang kita beli, sehingga dengan uang kita yang banyak kita bisa menukar tiket seenak kita. Suka atau tidak, kita harus rela menerima konsekuensi dari sikap kita ketika masih di loket tiket. Di dalam kereta api sudah tidak ada lagi acara pilih memilih dan beli membeli tiket, karena memang bukan tempatnya. Cuma satu kata kunci dari fungsi kereta api yaitu tempat kita merasakan akibat dari tiket yang kita pilih dan beli.

Inilah sesungguhnya jawaban dari apapun fenomena yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi di sini, baik atau buruk atau campuran antara baik dan buruk, semuanya "boleh" dan "sah" terjadi selama di dunia. Di dunia, masih bisa terjadi istilah ganti pilihan tiket. Yang beli tiket kebaikan bisa menukar dengan tiket keburukan, begitu juga sebaliknya.

Kalau sudah sampai akhirat, tidak ada lagi pilihan-pilihan. Masing-masing kita akan menempati posisi sesuai dengan "tiket" yang kita beli dan pilih. Surga atau neraka! Tidak ada lagi pilihan, karena akhirat bukan loket seperti di dunia...

Wallahu a'lam

Februari 2009

PAKU

Suatu ketika ada seorang anak laki – laki yang pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku ? Ya Paku…. !

Sang anak heran. Tapi bibir ayahnya justru tersenyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah. Ajaib !!!

Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku ! Sungguh jumlah yang menakjubkan. Begitu juga di hari kedua, ketiga dan beberapa hari selanjutnya. Tapi hal itu tak berlangsung lama.
Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan marahnya daripada menancapkan banyak paku di pagar rumahnya.Akhirnya kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak berhasil mengendalikan marahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang Ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana ia tidak marah.

Hari – hari berlalu dan anak laki – laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ia tancapkan. Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bangkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakang rumah.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang – lubang di pagar ini. Pagar ini tak akan bisa kembali seperti semula, tidak akan bisa sama seperti sebelumnya,” kata sang ayah bijak.
Sang Ayah sengaja memotong kalimatnya pendek – pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran ayahnya itu.

Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata – katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu bisa saja menusukan pisau, dan mencabutnya kembali. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata – kata sama buruknya dengan luka fisik, “ ucap sang ayah lembut namun sarat makna.


“Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca – kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.


***
Sahabat, saling mema’afkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi, akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi, berhati – hatilah sahabat. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi. Amiin.