Zulfahmi Abdillah

Urang Minang yang Lahir di Tanah Batak

I Won't Give Up

Indak ado kato manyarah sabalun mancubo. Darah Minang itu Padeh!

With Azzam

Bersama Melewati Hari Penuh Makna

Belajar Bersama Alam

Belajarlah.. Pada masanya Alam akan mewisuda dirimu...

Menjaring Matahari

Ringan Bukan Berarti Mudah. Berat Bukan Berarti Sulit.

Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Pesona Tapak Tuan, Aceh Selatan

Tapaktuan adalah ibu kota dari Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Kota ini memiliki luas 92,68 km² dengan jumlah penduduk sekira 22,343 jiwa. Saat Tsunami 2004, kota ini terlindungi Pulau Simeulue sehingga terjangan ombak yang dahsyat terpecah dan berkurang intensitasnya ketika sampai di pesisir pantai. Kota Tapaktuan menyimpan cerita menarik tentang legenda naga dan wisata bahari yang alami belum banyak diketahui dan dikunjungi.
Topografi kota ini di ketinggian 500 m dpl membawanya pada iklim tropis basah dengan keindahan alam, gugusan pantai berkarang, dan teluk yang memesona. Wisata bahari dapat dilakukan di sini, seperti di Pantai Teluk Tapaktuan dan Pantau Labuhan Haji. Ada pula tujuan wisata menarik lainnya, yaitu, Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ia Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar, atau Gua Kalam.

Tapaktuan merupakan kota di pesisir selatan pantai Aceh yang posisinya strategis dengan pelabuhan alam dan menjadi basis ekonomi kelautan di Provinsi Aceh.  Wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Tenggara di utara, di selatan dengan Samudera Indonesia, di barat dengan Kabupaten Aceh Barat Daya, dan di timur dengan Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam.
Tapaktuan dikenal dengan sebutan Kota Naga dimana berasal dari sebuah Legenda Putri Naga dan Tuan Tapa yang sudah menjadi sejarah lisan masyarakatnya secara turun temurun. Orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, saat Anda memasuki kota ini, sekira seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan maka akan melihat gambar naga tepat di dinding pinggir jalan.
Legenda Naga mengisahkan tentang sepasang naga jantan dan betina yang mendiami teluk (Tapaktuan). Keduanya diusir dari negeri Tiongkok karena tidak memiliki anak. Suatu ketika kedua naga ini mendapati sesosok bayi perempuan terapung di lautan kemudian dipelihara dengan penuh kasih sayang. Beranjak dewasalah bayi tersebut menjadi gadis cantik yang disayangi pasangan naga tersebut.

Suatu ketika munculah sebuah kapal dari Kerajaan Asralanoka di India Selatan dimana 17 tahun yang lalu rajanya kehilangan bayi yang hanyut ke laut. Sang raja mengenali gadis itu sebagai bayinya yang hilang dahulu dan hendak meminta kepada sepasang naga tersebut untuk mengembalikannya. Akan tetapi, sepasang naga itu menolak sehingga menimbulkan perkelahian di lautan dan mengusik seorang petapa yang bertubuh besar dan berdiam di Gua Kalam, yaitu dikenal sebagai Tuan Tapa.
Tuan Tapa yang terusik saat sedang bertapa segera melerai perkelahian sepasang naga dengan raja dari Kerajaan Asralanoka. Tuan Tapa meminta sepasang naga untuk mengembalikan sang gadis kepada orang tuanya. Akan tetapi, kedua naga tersebut menolak dan malah menantang Tuan Tapa untuk bertarung. Terjadilah perkelahian di laut dimana kedua naga kalah oleh Tuan Tapa dan gadis pun dikembalikan kepada orang tuanya. Gadis tersebut kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’ dan kembali bersama orang tuanya tetapi mereka tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka melainkan memilih menetap di pesisirnya. Keberadaan mereka diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan.
Naga jantan mati terbunuh akibat pukulan tongkat Tuan Tapa. Tubuhnya hancur berserakan dan darah berceceran menyebar memerahkan tanah, bebatuan, bukit, dan juga air laut. Hati dan tubuh naga hancur berkeping-keping menjadi bebatuan hitam berbentuk hati yang saat ini dapat dilihat membekas di sisi pantai (baca: dikenal sebagai Batu Itam). Darah naga yang membeku menjadi batu (baca: dikenal sebagai Batu Merah). Begitu pula sisa pijakan kaki Tuan Tapa nampak terlihat, tongkat dan sorbannya juga turut membatu hitam beberapa ratus meter dari kedua tapak kaki sang petapa di pinggir pantai.


Jumat, 03 Januari 2014

BUKAN SEKEDAR MENGENANG

Lucu, senang, bahagia, muram, sedih, tertekan, bingung, stress, linglung, berhasil dan segala macam bentuk ekspresi lainnya tidak satupun orang yang tidak pernah mengalaminya. Begitu juga dengan diriku, terutama ketika berkecimpung di dunia pergerakan. Dengan mengusung sebuah cita-cita, bersama sahabat-sahabat melewati hari-hari yang penuh warna.

Di sini, aku menyebutnya Universitas Kehidupan. Ya.. Pelajar Islam Indonesia (PII). Wadah yang aku kenal dan di dalamnya aku melalui proses yang cukup panjang. Sejak 2003 atau semenjak kelas 1 SMA. Mengajarkan bagaimana bersosial, berinteraksi dengan orang lain, baik teman, masyarakat bahkan dengan orang tua.

Entah mengapa, hari ini begitu terkenang dengan aktifitas-aktifitas ketika dulu masih aktif berproses. Ku rasa ada benarnya kalimat bijak para alumni sebelum aku, pada masanya nanti engkau akan merasakan rasa rindu yang mendalam terhadap PII tapi dengan syarat "Nikmati selama kamu berproses di PII". Kesimpulan sederhanaku, apapun onak dan duri yang engkau hadapi, nikmati sajalah karena pada masanya nanti engkau akan begitu manis mengingatnya. Benar, memori ingatanku terbuka ketika mengingat proses-proses itu. Proses pahit manis yang kesemuanya penuh dengan hikmah dan pelajaran bagi hamba-Nya yang berpikir.
Teringat ketika menjadi Ketua Bidang Dakwah Pembinaan Masyarakat Pelajar (DPMP) PD PII Tebing Tinggi periode 2002-2003. Ketua Umum PD PII Tebing Tinggi Periode 2003-2004. Sekretaris Umum Pengurus Wilayah PII Sumatera Utara Periode 2005-2007. Ketua Umum PW PII Sumatera Utara Periode 2007-2009. Pemimpin Redaksi ESENSI PW PII Sumatera Utara Periode 2009-2011.

Kalau diingat, tidak semua amanah yang aku emban berhasil. Bahkan gagal terutama ketika menjadi Ketua Umum PW PII Sumatera Utara. Namun aku tidak malu untuk mengenangnya, karena itulah proses. Dan pelajaran itu sungguh melekat.

Teringat ketika selesai Pelatihan Instruktur di Banda Aceh Mei 2006. 2 bulan kemudian langsung terjun ke dunia training diamanahi menjadi instruktur observer dan penghubung karena penyelenggara trainingnya adalah PII Tebing Tinggi. Bahagia karena di sekolah itulah aku pertama kali mengenal PII dan ditraining, di sekolah itulah juga pertama kalinya kau mentraining calon kader PII.

Ah.. Kenangan yang penuh pelajaran.. Bekal bagi hamba yang berpikir...

Senin, 30 Desember 2013

Lawe Alas : Sebuah Cerita Perjalanan

Kotacane, sebuah ibukota Aceh Tenggara ini ternyata menyimpan pesona alam yang luar biasa indahnya. Gugusan bukit-bukit menjulang menghiasi kedua sisinya. Maka jadilah, kota ini berada di lembah diantara dua bukit yang kita kenal bukit barisan.

Taman nasional Gunung Leuser lah yang pesona alam yang indah itu. Subhanallah, Maha Suci Allah Sang Maha Pencipta. Sungguh luar biasa! Itulah kalimat yang terucap ketika tiba di kota ini. Udara yang sejuk menyambut kedatangan setiap tamunya.

Tak perlu berlama-lama dengan rasa kagum dengan indahnya alam bumi alas. Langsung saja kita nikmati sungai yang panjang penuh jeram, penduduk setempat menyebutnya Lawe Alas atau Sungai Alas. Rasa khawatir langsung menghampiri melihat air yang deras dan dengan jeram-jeram yang cukup menantang. Maklum, ini untuk pertama kalinya bagi saya merasakan salah satu olahraga air ini. Ya arung jeram.

Setelah mendapat beberapa aturan selama berarung jeram dan pemanasan. Petualanganpun dimulai. Rasa khawatir pun seketika hilang setelah melalui beberapa jeram yang cukup menantang. Sensasi luar biasa dan berbagai ekspresi yang keluar menambah suasana ceria. Cukup panjang perjalanannya yakni sekitar 5 jam.

Saya sendiri semakin kagum dengan alam bumi alas. Alam sekitar bumi alas masih asri dan cukup terjaga dengan baik karena kawasan ini masuk dalam kawasan taman nasional gunung leuser, yang tidak diperbolehkan ada perambahan hutan. Sepanjang perjalanan, dengan dibantu guide yang berasal dari mapala UGL (Universitas Gunung Leuser) memberikan gambaran sekitar taman nasional gunung leuser.

Sempat kami melihat segerombolan kelelawar hutan yang sedang nangkring di dua buah pohon, seketika kami melintasinya segerombolan kelelawar tersebut terbang. Justru yang tidak disangka adalah ternyata jumlahnya sangat banyak sehingga membuat langit lawe alas penuh dengan kelelawar. Ini bukti, alam gunung leuser masih bersahabat dengan penghuninya termasuk kelelawar.

Kami berdoa, agar bumi alas sebagai pintu masuk ke taman nasional gunung leuser dari sisi tenggara dapat terjaga. Sehingga anak cucu kita kelak tidak hanya sekedar mendengar dongeng dari kita bahwa Lawe Alas sebagai taman nasional itu pernah ada.

"Ya Khalik... Sungguh luar biasa ciptaan-Mu. Bimbinglah kami agar bumi ini tetap terjaga. Tetap memberikan keseimbangan bagi kami. Jauhkan kami dari sifat tamak dan rakus. Kami ingin anak cucu kami kelak juga dapat merasakan apa yang kami rasakan.
Ya Rahman.. Suatu saat, kami ingin kembali kesini lagi.. Bumi Alas Aceh Tenggara.. Aamiin"

Jumat, 13 Desember 2013

The ADAM Nasheed Lyrics

BINTANG
Ciptaan: Adjie & Teguh Prasetya
Lirik: Winarti Ransih, Teguh Prasetya & Adjie
Composed: ADAM, & Dwi Sandhy R.
Dulu ia pernah berkata
Mimpi adalah sebuah asa
Pegang janganlah pernah lepaskan
Sebab ia takkan pernah pergi kemana-mana
Dulu pernah ia bergumam
Cita adalah sebuah pilihan
Dari segala yang pernah ada
Tak semua jadinya terasa istimewa
Reef:
Sesungguhnya semua adalah
Bintang yang redup ataukah benderang
Dari segala harapan yang pernah kita cita
Untuk menggapai sebuah impian
Bersyukurlah pada yang kuasa
Bintang yang redup kini tlah benderang
Ia telah melangkahkan dengan sejuta cita
Untuk menggapai sebuah bintang
Biarkan bintang benderang
Hingga kau gapai citamu



DUNIAMU
Ciptaan: Yandie
Lirik: Yandie
Vokal: ADAM
Composed: Dwi Sandhy R, ADAM & NUZAHYD
Saat azan berkumandang
Seruan itu terdengar jelas
Membawamu untuk melaksanakan kewajiban
Tapi dirimu terhenti sejenak
Karena merasakan getaran
Getaran handphone yang membuatmu
Tuk mencarinya
Reef:
Kau lebih mementingkan duniamu
Melebihi dunia akhiratmu
Seolah tindakanmu
Tak terlihat oleh-Nya
Kau lebih sering membaca novelmu
Melebihi membaca Al-qur’anmu
Seolah tindakanmu
Tak terlihat oleh-Nya
Na…na…na….na…..
Saat hatimu sedang gundah
Kau teringat kepada Sang pencipta
Setelah kau melewati semua
Dengan sempurna
Sujud syukurpun tak engkau lakukan
Atas apa yang telah kau dapatkan
Mendapat kebebasan
Dari jeratan gundah
Syana..na…na..na…na……



IBU
Ciptaan: Adjie
Lirik: Adjie
Composed: ADAM, Dwi Sandhy R. & Ellies.
Ibu oh Ibu
Dimanakah kau Ibu
Tak sanggup aku
Hidup tanpamu Ibu
Ibu oh Ibu
Dimanakah kau ibu
Kumerindukan
kasih sayangmu Ibu
Reef:
Oh Ibu
Kaulah yang mengandungku
Sembilan bulan
Aku dalam rahimmu
Oh Ibu
Segala pengorbananmu
Tak sanggup aku
Membalas jasamu Ibu
Kini kau tak disisiku lagi
Kau pergi dan tak pernah kembali
Hanya do’a yang bias ku beri
Semoga kau tenang disana
Amin


LAFAZ CINTA
Ciptaan: Adjie
Lirik: Adjie
Vokal: Aqos Syahrial
Composed: ADAM, Dwi Sandhy R.
Aku ingin mencintai dirimu
Seperti embun di pagi hari
Yang menjelma menjadi nyanyian riang
Karena ku kemarin
Adalah sepatah kata tak bersuara
Aku ingin selalu disisimu
Diseparuh nafas dihidupku
Menjalani semua kisah bersamamu
Suka dan duka hidupku
Karena aku yakin
Kau kekasih yang tercipta untukku
Reef:
Lafaz cinta
Ajari aku untuk
Mencintai dirimu
Agar ku tahu
Apa arti cinta sebenarnya
HILANG ARAH
Ciptaan: Abel Damanik
Lirik: Abel Damanik
Vokal: Abel Damanik
Composed: ADAM & Dwi Sandhy R.
Telah kujalani hidupku ini selama ini
Hampa tanpa makna
Tanpa tujuan dan arah yang kuyakini
Menuntun jiwaku
Rapuh dan kering seakan ranting diriku
Mudahnya aku…patah dan mati
Ringkih dan lirih seakan tubuh diriku
Mudahnya diri…jatuh kembali
Setitik noktah terang datang padaku
Sinari jalanku
Buram namun pasti tunjuki diriku
Hitam putih itu
Cahya illahi seakan sinari diriku
Terangi aku…menuntun jalanku
Cahya illahi seakan air dirimu
Sirami aku… hilang dahagaku
Reff.
            Ya Allahu ya Robbi
            Tunjukan jalanku
            Ya Allahu ya Robbi
            Tuntunlah aku
            Ya Allahu ya Robbi
            Tuntunlah diriku
            Ya Allahu ya Robbi..akulah milik-Mu….
PEMUDA
Ciptaan: Abel Damanik
Lirik: Abel Damanik
Vokal: Abel Damanik & Adjie (Rap)
Composed: ADAM, Dwi Sandhy R. & Ellies.
Hei kau yang disana
Jangan diam saja
Langkahkan kakimu
Kejarlah mimpimu
Ayunkan lenganmu
Raihlah semua cita
Kerikil yang tajam
Adalah teman baikmu
Angin badai adalah
Pengiring jalanmu
Itulah tantangan yang membuatmu
Kuat  berdiri
Reff.
            Hei …
            Janganlah terpaku
            Sadarkan asamu
            Gapailah  dunia digenggamanmu
            Hei …
            Janganlah meragu
            Derapkan hatimu
            Sampai kau mampu tegak berdiri
Hei kawan dengarkan suara hatimu
Bangunkan anganmu sadarkan mimpimu
Dari dunia…yang dapat menjebak dirimu
Kau harus berlari
Kejar citamu yang pasti
Jangan pernah berhenti
Apa yang kau yakini
Butlah dirimu menjadi lebih berarti
Wake up,..wake up
Its time to wake up


RAYUAN SUFI
Ciptaan: Abel Damanik
Lirik: Abel Damanik
Vokal: Aqos Syahrial
Composed: ADAM, Dwi Sandhy R.
Meranum mekar melati                                Perahu layar bertepi
Disisi kuntum seroja                                                Melarung laut samudra
Cerminkan insan sejati                                Carilah cinta sejati
Nan berbesar  jiwa                                        Hai sebenar cinta
Allah hai cinta                                               Itulah ia
Merendah hati                                               Ialah cinta
Melembut jiwa                                               Allah semata
Tawadu’.. hai insan mulia (2X)                    Menghamba
                                                                        Hanyalah pada-Nya
Semerbak harum mewangi
Merekah  kuntum berbunga
Insane merindukan cinta
Kan zat  yang mulia
Allah hai pada
Merenung sukma
Merasuk jiwa
Tafakur …hai insan bahagia (2X)
Reff.
            Aduhai cintaku kepada
            Ya Allah sekatulistiwa
            Aduhai rinduku menghamba
            Ya Allah sealam maya

SALAMUN’ALAIK
Ciptaan: Muhammad Ilham Nuzahyd
Lirik: Muhammad Ilham Nuzahyd
Vokal: ADAM & NUZAHYD
Composed: Ellies, ADAM, NUZAHYD & Dwi Sandhy R.
Reef:
Ya Nabi Salamun’alaik
Ya Nabi Salamun’alaik
Ya Rasul Salamun’alaik
Ya Rasul Salamun’alaik
Ya Rasul
Cahaya-Mu Menyinari
Semua insan yang berbudi
Seperti Air menyirami
Setiap hati yang terpuji
Muhammad ku, Muhammad ku
Ya Nabiku, ya Nabiku Muhammadku
Muhammad ku, Muhammad ku
Ya Rasulku, Ya Rasulku, Ya Rasulku.
Ya Nabi Salamun’alaik
Ya Rasul Salamun’alaik
Ya Nabi Salamun’alaik
Ya Habib Salam…

Selasa, 10 Desember 2013

Tentang #JALAN

Catatan ini tentang #Jalan. Beberapa hikmah perjalanan yang pernah saya lalui dituliskan dengan kalimat sederhana. Di 1434 H ternyata jalan cerita itu panjang.

Hidup seperti anak tangga, untuk ke puncak kita harus melalui satu persatu anak tangga.. Kegelapan menjadi akhir dari segala dan putih akan selalu bersama orang-orang yang beriman...***

Letih tubuh di dalam perjalanan.. Saat hujan dan badai merasuki badan.. Namun "Azzam" harus bertahan.. Karena perjalanan masih panjang...*** #Jalan
Jalan memang tidak akan pernah berakhir namun makhluk yg melaluinya pasti akan berakhir...*** #Jalan
Kita masih hidup di langit yang sama... Dengan hembusan angin yang tak berbeda.. Maka tak ada kata mundur ke belakang.. Karena matahari masih bersinar terang...*** #Jalan
Hakikat belajar adalah ketika menemukan kata "Ooo" yg kemudian menjadi "AHaaa" akhirnya ide2 pun bermunculan... Maka aplikasikanlah dalam kehidupan...*** #Jalan
Ini perjalanan maju. Tak banyak waktu untuk menengok ke belakang. Walau ada keinginan untuk memperbaiki masa lalu.. Tetap! Ini cerita perjalanan maju...*** #Jalan

Jalan.. Tiba-tiba engkau bergelombang.. Kemudian meluncur turun ke dalam.. Di satu titik engkau menanjak hingga akupun sulit mendakinya... Namun kini engkau datar. Untuk beberapa saat tetaplah seperti ini.. #Jalan
Di jalan... Anda harus tujuan anda. Potensi yang anda miliki dan harus kenal dengan siapa kawan dan musuh anda...*** #Jalan
Jalan tak selamanya mulus.. Terkadang jalan itu licin.. Maka pelajarinya Jalanmu.. Kuasailah Medannya agar kau tak berhenti di tengah Jalan...*** #Jalan
Jalan... Engkau buntu kali ini...*** #Jalan

Di jalan... Mengapa orang-orang ingin melaluinya? Karena ada tujuan yang ingin dicapai... Maka nikmatilah perjalanan... Kelak engkau akan bercerita di Jalan ini pernah aku lewati...*** #Jalan
 
Aku berada di Jalan yang berbeda.. Begitu juga kamu.. Kitapun bertemu dipersimpangan Jalan itu.. Kenapa kita tidak berjalan di jalan yang sama saja walau lajur yang berbeda?...*** #Jalan

Nak! Kau perlu belajar banyak dari perjalananmu. Karena hidup ini memiliki titik-titik makna. Bila kau berjalan dari satu titik ke titik yang lain, selalu ada hikmah di antaranya...*** #Jalan

"Jalan" Apa pesanmu malam ini? Jalan menjawab dengan tenang.. "Carilah jalanmu, nikmatilah perjalananmu dan tetap fokuslah di Jalan itu"...*** #Jalan

Ketahuilah Nak! Jalan buntu itu bukan berarti tidak ada jalan. Hanya perlu usaha kerasmu untuk membukanya. Dan setelah terbuka, Ikhlaskan orang lain untuk bersama-sama melaluinya...*** #Jalan
Jangan mengeluh Nak! Jangan mengeluh dengan lubang-lubang kecil yang kau hadapi di jalan. Lubang-lubang kecil itu mengajarimu untuk lebih siap menghadapi lubang yang lebih besar di jalan itu...***
Tetap fokuslah Nak! Jalan itu memang sempit dan berliku.. Walau di sisinya jurang yang dalam.. Percayalah, di depan ada tempat terindah yang belum pernah engkau temui sebelumnya...***
Mundurlah Nak! Ambillah jalur yang lain... Walaupun orang berbondong-bondong melalui jalan itu... Percayalah Jalan itu buntu...***

Selasa, 30 April 2013

TANPA JEJAK

Rasa lapar menyerang. Ternyata waktu menunjukkan pukul 20.30. Sedikit terlambat, karena biasanya di saat jam-jam tersebut saya sudah tidak merasakan perut yang keroncongan. Namun, karena sorenya terlalu banyak makan cemilan gorengan akhirnya rasa lapar di malam hari tertunda.

Tidak seperti biasanya juga, beras untuk makan malam ini belum dimasak mungkin karena malas menyerang. Akhirnya diputuskan untuk membeli saja di warung nasi. Ku hentakkan pedal "Azzam", sepeda motor kesayanganku dan segera melaju ke warung nasi yang biasa saya kunjungi.

Sampai di tempat yang dituju, tampak ada yang berbeda dari biasanya. Kenapa saya katakan berbeda dari biasanya? karena hampir setiap hari, siang dan malam aku membeli di tempat ini. Namun, karena untuk mengurangi beban cost yang terlalu besar saya putuskan untuk memasak saja di rumah.

Saya tidak melihat Bapak (Pak etek biasa saya memanggilnya) yang biasa melayani para pelanggan setianya, tidak terlihat lagi seorang Ibu (Saya memanggilnya Bunda), tidak terlihat lagi pekerjanya yang selalu menyambut saya, satu lagi, saya tidak lagi melihat tulisan Serba 6000 yang terpampang di steling kaca pemajang makanan.

Rasa bertanya-tanya muncul di dalam hati, memperhatikan perbedaan yang ada di sekiliing warung, melihat para pramusaji yang lain dari biasanya. Setelah memesan makanan dan sambil memberikan secarik uang sesuai harga makanan yang kubeli. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, kuberanikan diri untuk bertanya kepada kasir.

+ Pemiliknya ganti ya mbak?
- Iya
+ Sudah lama?
- Sekitar 1 bulan
+ Jadi ini dijual atau disewakan sementara?
- Di jual
+ Pemilik yang lama kemana?
- Kurang tau bang...

Ya.. Saya merasa kehilangan. Tanpa jejak yang berarti. Pikiran terus digelayutin pertanyaan-pertanyaan. Kemana Pak Etek? Kemana Bunda? Kemana Ara? (Ara adalah gadis kecil yang setiap saya ke warung selalu menjahili). Begitu kehilangannya saya adalah bukan karena rasa masakannya yang begitu pas dilidah saya, bukan juga karena saya bisa makan tanpa perlu membayar dahulu jika tidak memiliki uang, tapi karena rasa kekeluargaan yang terbangun selama ini.

Mereka keluarga kecil yang begitu bersahaja, sederhana, dan terlalu baik kepada saya. Kesamaan darah Minang yang mengalir di darah kami semakin menguatkan rasa kekeluargaan itu. Namun kini, mereka sudah pergi tanpa jejak. Saya hanya dapat berdoa, semoga bisa dipertemukan kembali kepada mereka seraya berdoa semoga Allah memudahkan urusan mereka, mengampuni segala dosanya dan tetap dalam lindungan Allah SWT.

Tinggalkan Jejak...

Minggu, 28 April 2013

KEKALAHAN DALAM BERPIKIR

“Ahmad ditugasi oleh oleh orang tuanya untuk membuat pagar baru untuk menggantikan pagar lama yang terbuat dari bambu yang telah usang dan menggantinya dengan pagar besi. Ahmad yang seorang siswa SMK dipandang orang tuanya memiliki kemampuan untuk mengerjakan tugas itu karena segala bahan dan peralatannya sudah ada.

Namun, Ahmad menolak tugas tersebut dengan alas an khawatir kalau pekerjaanya tidak berhasil. Mungkin pagarnya tidak kuat, hasilnya yang kurang menarik, ataupun alasan lainnya. Alhasil, pagar yang diidam-idamkan orang tuanya tidak pernah terpenuhi.”

Kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus dari berbagai kasus dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan setiap kita pasti pernah bahkan sering menghadapi hal yang serupa. Dalam memulai pekerjaan ataupun menerima amanah dari orang lain, kita terkadang terlebih dahulu berfikir, “Apa mungkin bisa?, Bagus atau tidak ya hasilnya?” dan lain sebagainya yang akhirnya dari pemikiran seperti ini mengakibatkan pekerjaan atau amanah tersebut tidak jadi dilaksanakan.

Bentuk pemikiran seperti ini dalam bahasa penulis adalah kekalahan dalam berfikir. Kita sering terbentur dengan kalimat-kalimat, “Ah, Saya tidak bisa!, Itu pasti susah!” dan lain sebagainya. Padahal pekerjaan itu belum tentu susah seperti yang kita bayangkan. Analogi sayur asam, bahwa kita akan tahu bahwa rasa sayur tersebut asam ketika kita sudah mencicipinya atau mencobanya sendiri dan bukan kata orang maka baru kita menyatakan bahwa sayur itu asam. Nah, begitu juga dalam sebuah pekerjaan atau amanah yang kita terima bahwa tingkat kemudahan dan kesulitan baru akan kita rasakan apabila kita sudah melalui proses pekerjaan tersebut.
Allah SWT menyatakan hal ini di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya.

Oleh karena itu, apakah sekarang akan terus ragu dengan kemampuan yang kita miliki??? Apakah kita akan selalu menyatakan tidak bisa??? Apakah kita akan selalu kalah dalam berfikir??? Mulailah dari hal yang kecil. 

Wallahu A’lam bi Showaf.

We are Not Just Friend But Family


Apa sih arti dari sebuah persahabatan?? Ada yang bilang sahabat itu adalah teman yang benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita. Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu bareng. Tetapi salah satu sahabat saya bilang, sahabat itu adalah teman dalam suka dan duka, tapi tahu batas dimana suatu saat ketika teman dapat masalah, kita harus membiarkan dia mengatasi masalahnya sendiri agar teman tersebut tumbuh lebih matang dan mandiri.

Terkadang saya dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya. Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat saya yang berhubungan dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, saya bingung jawabnya. Dari situ saya berikir, apa saya ini sahabat yang baik? Apa saya pantas disebut sahabat? Karena saya menganggap sahabat adalah orang yang bisa melihat kita dari hati ke hati, bukan karena tampang, materi, latar belakang, pendidikan dan lain-lain. Karena itu saya memang jarang menanyakan hal-hal yang berbau privacy ke sahabat-sahabat saya. Saya lebih sebagai pemberi masukan dan penerima keluh kesah sahabat-sahabat saya. Bukannya saya orang yang nggak peduli dan nggak mau tau, tapi menurut saya persahabatan bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan sedalam apa kita memahami orang tersebut. Saya sudah ngerasain pahitnya persahabatan ketika saya bilang dia sahabat saya, ternyata dia hanya memanfaatkan apa yang saya punya dan lain-lain. Ketika saya sedang jatuh, dia malah meninggalkan karena merasa ga ada yang bisa diberikan oleh saya.

Tapi yang terpenting dari seorang sahabat adalah ketika kita mampu menempatkan diri disaat dalam keadaan suka maupun duka. Terkadang kita menghadapi sahabat-sahabat yang dalam keadaan suka, begitu juga sebaliknya. Nah, bagaimana kalau dua orang sahabat kita mengalami keadaan suka dan duka yang bersamaan? Disinilah fungsi sahabat, mampu menempatkan dirinya dengan sebaik mungkin.

Hal inilah yang baru saya alami beberapa hari ini, tepat tanggal 27 April, dua orang sahabat saya mengalami keadaan suka dan duka bertepatan. Salah seorang harus ditinggal ayahnya meninggal dunia karena sakit, sementara seorang lagi melepas masa lajangnya alias menikah. Sebagai seorang sahabat, saya harus mampu membagi waktu, tenaga, mungkin juga pikiran bagaimana kedua sahabat ini dapat dikunjungi tanpa mengurangi makna keduanya. Alhamdulillah, keduanya dapat terkunjungi dan saling mendoakan atas peristiwa yang dialami.

Sahabat... Kita dianggap sahabat bukan karena adanya pengakuan lisan dari orang lain bahwa kita adalah sahabatnya, akan tetapi adanya kehadiran kita ketika suka dan duka menghampiri.

Wallahu a'lam bishowaf

Rabu, 24 April 2013

BERSERAH

Gerhana meliputi segala
Tiada lagi sinaran cahaya
Keinginan tanpa kepastian
Tak mampu rasanya ku teruskan
Ku meneruskan


Biarlah, kurelakan segala
Walau hidupku sebuah tanda tanya, mengapa?
Biarpun tak mampu kubertahan
Takkan pernah kuakui kalah


Masih terdampar kudisini
Tiada jalan mungkin kulalui
Haruskah hidupku dipersenda
Mengharungi dugaan melanda
Kuberserah


Tuhanku kurelakan segala
Takkan pernah kuakui kalah
Kupercaya, kuyakin pada-Nya
Dia yang menentukan semua
Kuberserah...



Akhi... Bulan ini penuh makna bagimu. Tanpa terasa bertambah satu tahun usiamu... Aku masih ingat ketika setahun yang lalu aku menengadah mendoakan dirimu saat hari Milad mu...

Akhi... Mungkin harapan dan cita-citamu setahun ini belumlah tercapai semuanya... Mari kita evaluasi, apa yang menjadi penghambat, penghalang, dan pemutus yang menyebabkan harapan-harapan tersebut belum tercapai...

Akhi... refleksi adalah kata kuncinya... Siapa kita, Sedang dimana kita, dan Untuk apa kita diciptakan adalah barometer dalam setiap awal langkah kita... Insya Allah, dengan begitu semoga planning kehidupan kita menjadi terarah dan Allah meridhoinya...

Akhi... Selamat Milad.
07 Desember 1986 - 07 Desember 2008

By : NN

Begitulah isi surat kaleng yang aku terima 2 hari yang lalu. Surat tanpa nama yang diletakkan di di dalam tas ku cukup membuatku terharu akan isinya.. Subhanallah... nadaku lirih...

Ya Allah... Siapapun gerangan yang memberikan surat itu berilah lindungan dan maghfiroh-Mu. Hiasilah hari-harinya dengan Iman dan Taqwa, lantunan Al-Qur'an dan terimalah segala amalannya... Ya Allah... Pertemukanlah aku dengan dirinya... Amin...