Zulfahmi Abdillah

Urang Minang yang Lahir di Tanah Batak

I Won't Give Up

Indak ado kato manyarah sabalun mancubo. Darah Minang itu Padeh!

With Azzam

Bersama Melewati Hari Penuh Makna

Belajar Bersama Alam

Belajarlah.. Pada masanya Alam akan mewisuda dirimu...

Menjaring Matahari

Ringan Bukan Berarti Mudah. Berat Bukan Berarti Sulit.

Kamis, 03 Oktober 2013

SINABUNG BERCERITA (Selasa,17 September 2013)








TAZKIYATUN NAFS : Penyucian Jiwa

Seringkali setan merasuki hati manusia dan menyebarkan penyakit yang mengancam kesehatannya. Ada beberapa jalan yang mungkin dilaluinya sehingga kita perlu mewaspadai. Hati adalah sebuah benteng. Sementara setan ialah musuh yang selalu ingin memasuki agar bisa menguasai dan mengendalikannya. Tak ada yang mampu menjaga benteng dari serang musuh, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya, jalan masuknya, dan celah-celahnya. Jelas, orang yang tak mengetahui pintu-pintunya, ia tak akan bisa menjaganya.

Oleh sebab itu, menjaga hati dari bisikan setan ialah sebuah kewajiban. Sementara itu, mengusir setan hanya bisa dicapai dengan mengetahui jalan-jalan masuknya. Karena itu, mengetahui jalan-jalan masuknya merupakan suatu kewajiban.

Jalan-jalan masuk setan tersebut antara lain, marah dan syahwat, iri dan tamak, kenyang lantaran makan berlebihan, tergesa-gesa dan tidak mengecek kebenaran terhadap persoalan, bakhil dan takut miskin, fanatik yang berlebihan.

Hati ibarat seorang raja yang mengatur bala tentara. Ia memberi perintah dan berbuat sesuka hati. Sementara jasad ibarat tentara yang siap melaksanakan perintah dan menerima perintah hati. Setiap amalnya yang lurus bersumber dari hati dan niat sang raja.

Oleh sebab itu, memperbaiki dan meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki kebenaran. Sementara memeriksa penyakit dan mengobatinya ialah tindakan yang paling urgen yang dilakukan para ahli ibadah.

Demikianlah sepenggal tulisan karya Dr. Ahmad Faris yang lahir di Maniyal, Mesir pada Juli 1952. Dalam bukunya yang berjudul asli "Al-Bahr Ar-Ra'iq fi Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq". Dr. Ahmad Faris menuliskan bahwa hati membutuhkan gerak agar kebugarannya terus terjaga. Terkadang, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tubuh juga membutuhkan stamina hati yang prima. Tanpa niat yang benar, keihklasan, dan mengikuti tuntunan Rasul, semua amal akan sia-sia.

Buku ini akan memandu anda untuk melakukan "gerakan-gerakan" yang dapat membugarkan hati anda. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan setelah kematian, yang bahagia dan sengsaranya terkait dengan bekal yang disiapkan di dunia. Dr. Ahmad Faris mengajak kita menelusuri setiap ruang hidup setapak demi setapak sehingga kita selamat sampai tujuan.

Walau buku ini terjemahan yang judul Indonesianya Penyucian Jiwa, namun layak untuk kita yang ingin meluruskan hati, menguatkan iman, dan mempelajari hakikat hati sebenarnya.

Wallahu a'lam bishowaf...

Judul asli : "Al-Bahr Ar-Ra'iq fi Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq
Judul cetakan Indonesia : Tazkiyatun Nafs : Penyucian Jiwa
Penulis : Dr. Ahmad Farid
Penerjemah : Muhammad Suhadi, Lc
Penerbit: Ummul Qura (Kelompok Aqwam) Cetakan ke I 2012.
Resensor: Fahmi Azzam

Minggu, 21 Juli 2013

POLISI VS INTEL

Ada pengalaman menarik yang dialami Tim INTEL Ramadhan ketika menuju Desa Tapak Kuda Kec. Tanjung Pura Kab. Langkat (20/07/13).  Sesampainya di tanjung Pura, mobil rombongan berhenti untuk membeli ta'jil berbuka puasa, khawatir jika waktu berbuka sudah tiba sementara Tim masih di perjalanan. Selepas membeli ta'jil Tim INTEL di stop polisi yang sedang bertugas di depan SMAN 1 Tj. Pura.
POLISI: "Selamat sore pak, bisa tunjukkan surat-surat?"
Tanpa menjawab langsung menyodorkan yang dimaksud. Kemudian Polisi tersebut mengeceknya.
POLISI : "Bapak sudah dilihat baru memasang sabuk pengaman!" (Berkata ke Tim kami di sebelah sopir). Pada saat tersebut sabuk pengaman memang baru di pasang karena Tim baru keluar dari parkiran setelah membeli ta'jil. Dan Polisi mengira kami memasang sabuk setelah dilihat Polisi.
Ketika di dalam Pos Jaga.
POLISI: " Yang mana kita tilang ini pak? STNK atau SIM?
INTEL: "Aku minta Tilang Biru"
POLISI: "Nanti ambil di pengadilan"
INTEL: "Aku minta tilang biru, gak perlu aku ke pengadilan"
POLISI: Dengan nada Kesal sambil membolak-balikkan tilang merah yang akan ditulisnya. "Tilang biru mana? Mana tilang biru?
INTEL: "Aku minta tilang biru! Titik!" Mari tilang biru, Tunjukkan nominalnya! Bilang ke Bank mana harus ku bayar!"
POLISI: "Ya sudah marilah...!
INTEL: "Kemana?" Merasa kalah, si petugas mengarahkan kami ke Kanit.
POLISI: "Kanit" Sambil mengarahkan kami agar menuju ke ruang Kepala Unit Pos.
KanitPOL: "Apa kesalahannya ni?"
INTEL: "Aku pun tak tau komandan.. Aku cuma minta tilang biru"
KanitPOL: "Apa salahnya ni? (Sambil memanggil petugas yang menilang tadi). "Mana yang nilang tadi?!?!?"
POLISI: "Tak pakai sabuk ndan! Kita tengok baru orang ini pasang sabuk"
KanitPOL: "Nah itu salah kau. jadi gimana ini? kita........" (Belum selesai si INTEL langsung memotong
INTEL: "Kami baru keluar dari parkir komandan!!! disitulah kami sabuk, di kira kawan ini kami baru pakai sabuk setelah ditengoknya.."
KanitPOL: "Jadi kau kira dia bukan Polisi?!! Tunjukkan pangkat kau! (Meminta petugas tadi menunjukkan pangkatnya..
INTEL: "Bukan soal pangkat komandan! Aku baru keluar dari parkir beli ta'jil, disitulah kami baru pasang sabuk!"
KanitPOL: "Betul itu?!!!"
INTEL: "Aku puasa komandan!"
KanitPOL: "Nah lah! (Sambil membanting STNK dan SIM)
INTEL: "Selow lah komandan! Puasa ni!"
KanitPOL: Sambil mengutip STNK dan SIM yang dibantingnya tadi dan menyerahkannya ke kami. "Nah.. Nah.. Sanalah.. Hati-hati di jalan.. Lain kali jangan minta tilang Hijau!"
INTEL: ?!?!?!?!?!?!? Berlalu sambil menyalami semua petugas yang ada di dalam pos.

Di mobil kami berujar "INTEL KOK DILAWAN... HA HA" "Sejak Kapan ada Tilang Hijau!"

Selasa, 09 Juli 2013

DI CATAT? HARUSKAH?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, anak-anak murid akan dibekali dengan sebuah buku catatan yang dipergunakan untuk mencatat amaliah hariannya selama Ramadhan. Dengan berbagai model dan bentuk buku catatan, anak murid diminta untuk belajar jujur terhadap amaliahnya.

Apa urgensinya? selain melatih kejujuran. Si anak akan mengevaluasi setiap amalan yang sudah dilakukannya dan yang tidak dilakukannya. Selain itu, ada kolom catatan tausyiah Ramadhan yang disampaikan ustadz ketika sebelum Tarawih dimulai, dan Sang ustadz pun diminta menandatangani sebagai bukti bahwa si anak sudah mengikuti tausyiah Ramadhan di Masjid/Musholla.

Okelah.. kalimatku terlalu formal membahas sisi positif buku catatan harian ibadah Ramadhan itu. Aku.. Sebagai seorang mantan murid merasa geli dan cukup menyayangkan pola pencatatan seperti itu. Pengalamanku ini mungkin cukup bisa menggambarkan sebagian besar murid menyikapi tugas amaliah yang harus dicatat itu.

Kita harus mengakui tujuan positif selalu baik, akan tetapi prosesnya menjadi tidak baik karena pola yang tidak tepat ini. Hal pertama, dalam mencatat ibadah sholat 5 waktu. Si murid akan mencentang/ceklis kolom. Namun yang terjadi adalah terkadang murid mengisinya walaupun dia sendiri tidak melakukan sholat. Ini juga bisa terjadi dengan ibadah-ibadah yang lain yang harus di centang jika sudah dilakukan.
Hal kedua, mencatat rangkuman tausyiah Ramadhan. Yang terjadi adalah si murid meminta tanda tangan ustadz padahal catatannya masih kosong, yang setelah ditandatangani dia mencontek punya temannya untuk dicatat. Jadilah catatan harian tausyiah yang seragam bahkan sampai titik komanya. Padahal daya nalar seseorang dalam menyerap bisa berbeda-beda.

Disinilah kita harus memerlukan peran orang tua dalam mengawasi anaknya dalam mencatat. Peran orang tua harus lebih. Karena pendidikan utama adalah keluarga. Jadi, kalau anaknya mencatat dengan ketidak jujuran mungkin begitulah orang tuanya dulu hingga kini.

Ah capek aku mikirnya.. elok tidur... Semoga anakku kelak tidak begitu.. Dia hanya melakukan kejujuran dan percaya malaikat pencatat sajalah yang akan mencatat amaliahnya... Aamiin..

Wallahu a'lam bishowaf...

Kamis, 27 Juni 2013

BERSATU KITA RICUH, BERCERAI KITA RUNTUH

Dimana ulama kita? Dimana para Ustad kita yang acapkali tampil di televisi? Atau memimpin jamaah yang ribuan? Di mana orang yang mewakili umat Islam tanpa label Liberal dan sekular di antara tumpukan masalah bangsa ini?

Saya merasa, kita umat Islam, seperti paria. Menjadi penonton di pusaran bangsa ini. Bicara korupsi, yang muncul wajah Romo berteriak anti korupsi. Bicara pendidikan, yang muncul wajah dari Universitas yang di cap kandang liberal. Bicara perhatian pada perempuan, yang muncul sosok perempuan yang kelewat syahwat ingin sama dengan lelaki. Bicara Ekonomi, yang muncul sosok dengan inovasi ribawi. Di mana tokoh-tokoh yang Islami? yang membawa panji Islam dalam pusaran bangsa ini? Yang menawarkan dahaga bagi umat yang terombang-ambing dalam solusi serba sekuler? Jangan salahkan umat yang sebagian besar masih awam, ketika butuh pemimpin, mereka akan menghantar yang sekular. Jangan salahkan umat, ketika butuh pendidikan, mereka akan lari pada yang bukan Islam. Jangan salahkan pula mereka, ketika butuh solusi akan berpaling pada si Sahal, si Ulil atau si Guntur Romli.

Apakah memang sudah suratan, umat Islam akan menjadi penggembira? Pemain yang hanya berenang-renang di tepian? Apakah memang cermin sejarah kita begitu buram? Berkacalah. Niscaya kita akan tersentak. Para pemimpin terdahulu kita membanijiri segala bidang. Di Perburuhan kita akan bertemu dengan sosok H. Fachrodin, atau Haji Agus Salim. Kiprah beliau membela buruh turut membawanya terbang ke Jenewa menghadiri kongres buruh sedunia. Atau sebut nama Tjokroaminoto ketika bicara anti kapitalisme. Jangan sungkan katakan Yunan Nasution ketika bicara tentang pers. Cetuskan nama Buya Hamka, saat bicara soal sastra, sejarah dan budaya. Ia pun turut meramaikan kongres kebudayaan pertama. Tak lupa ungkap Mr Kasman Singodmedjo saat bertemu hukum. Masih ada sederet nama lainnya.

Mereka jelas tokoh yang berjuang untuk Islam. Tapi juga bukan penonton di tepian. Mereka menceburkan diri dalam pusaran pergolakan. Untuk menentukan masa depan. Toh mereka bukan orang yang terbawa arus, terhanyut dalam kemaksiatan atau kemunkaran. Justru merekalah yang memutar pusaran arus hingga namanya turut tercatat dalam kemerdekaan dan pembangunan. Dan buahnya? Nama-nama pejuang Islam tak mungkin terpinggirkan ketika bicara soal amat penting, umpama saja soal penentuan dasar negara.

Tak pernah kita dengar Soekarno atau Moh Hatta meninggalkan Ki Bagus Hadikusumo untuk memutuskan perkara dasar negara. Sebaliknya, Soekarno sampai perlu memohon-mohon atas sikap kokoh beliau. Tak sudi Haji Agus Salim dipertanyakan pentingnya syariat Islam dalam mengisi kemerdekaan. Tak percaya? buka saja notulensi rapat BPUPKI. Tak ada yang mengutuk Kahar Muzakkir radikal, ketika ia sampai menggebrak meja sidang BPUPKI karena tidak puas dengan realisasi Islam dalam Undang-undang. Anda berani zaman sekarang menggebrak meja DPR meminta syariat Islam? Bisa saja, tapi tunggu besok pagi Koran Tempo menggelari anda fundamentalis. Tengok marahnya KH Wahid Hasyim ketika Soekarno lancang menyinggung soal syariat Islam. Saat ini? Kita bicara soal syariat, yang sewot Romo Benny!

Lantas jika cermin sejarah mengatakan bahwa pendahulu kita tak pernah lupa bergerak di segala bidang, mengapa kita saat ini hanya menjadi paria? Tersisih di perburuhan, tercampak dari perekomian, terpinggirkan dari pendidikan? Tertolak dari kebudayaan? Tersingkir dari sejarah?

Mengapa syahwat kita hanya berkerumun di tujuh huruf, yakni, POLITIK? Jambak menjambak, sikut menyikut sesama umat. Demi sebuah kolam lumpur bernama politik. Demi sebuah istana pasir bernama kekuasaan. Kita terjerembab dalam fanatisme partai, kelompok atau organisasi. Kritik organisasi berarti penistaan harga diri. Pasang jimat anti kritik hingga menjadi kebal diri. Lupa , kita ini mencoba membangun agama ilahi, bukan organisasi. Fanatisme sempit itu berujung pada kericuhan. Anda anti demokrasi? itu ilusi! Anda turut berdemokrasi, itu tak patut! Bahkan tak sudi kita menoleh jembatan solusi Theistic Democracy ala Natsir.

Dipolitiklah kita bersatu, namun untuk ricuh. Slogan kelompok terdengar riuh. Vonis terbang melayang disana-sini. Caci maki lari ke sana ke mari. Padahal kita paham, seribu ayat pun tak mampu menggoyahkan kedudukan masing-masing. Karena semua yakin dalilnya sendiri-sendiri. Kenapa kita masih saja terus menghantam, walau masing-masing sudah paham? Kenapa kita masih sudi mencaci saudara sendiri, walau masing-masing punya kontribusi? Kenapa kita tak berjabat saja, toh nasehat telah tersemat? Biar Allah yang menentukan di akhirat.

Kita, umat Islam punya semangat. Kita punya ayat. Kita hanya tak punya alat. Sebagian kawan mengucap, " kita tersisih karena media-media laknat." Saya pun setuju, tapi apa ikhtiar kita? Kita bisa mengutuk konglomerasi stasiun televisi. Tapi apa umat sudah punya stasiun televisi sendiri? Oh, tidak, kita terlalu sibuk mencaci dan ricuh sana-sini. Kita marah FPI dibiarkan sendiri. Muda-mudi lebih suka melihat si Lady (Gaga). Kita mengutuk! Tapi apakah kita sudah pernah mencoba memahami muda-mudi saat ini? Mencoba berkomunikasi dengan dunia mereka? Berbicara dengan bahasa mereka? Facebook? Twitter? Instagram? Social media? Digital media? Menelisik apa yang terjadi dengan mereka? Sudikah kita merangkul mereka yang tersunyi dari agama mereka sendiri? Sebagian kita lebih suka menyisihkan diri, bersembunyi dalam lingkungan privasi. Enggan membaur, merangkul. Kita lebih suka membuat garis demarkasi dengan saudara sendiri. Kita dengan ayat, mereka dengan pandangan hidup barat. Habis perkara!

Bila ini terus berjalan, alih-alih mengubur jurang perpecahan, kita sepertinya sedang menggali kubur sendiri. Berjabat tangan dengan keterpurukan. Tinggal menunggu saatnya nanti, kita tertimbun dalam reruntuhan kericuhan kita sendiri. Dan yang terkenang hanya nama Hamka, Wahid Hasyim, Agus Salim, Natsir hingga Masyumi. Sayup-sayup terdengar, itu pun dinyanyikan oleh si A, B atau C yang bergelar liberal dan sekular. Semoga Tidak! Mari bergandeng tangan.

Kamis, 13 Juni 2013

TERUSIK

Terusik dengan pernyataan bahwa anggota DPR berjumlah 560 orang. Dari sekian banyak anggota DPR hanya sebagian "kecil" saja yang bermasalah (korupsi, amoral, dll). Sehingga bagi katanya "bersih" menyatakan bahwa jangan digeneralisir seluruh anggota DPR adalah koruptor dan tidak bermoral, kasihan yang baik-baik. Nah, jadi muncul pertanyaan, kalau memang sebagian besar merasa "baik" mengapa tidak menasehati/menegur/mengingatkan kepada mereka yang tidak baik tadi? Mengapa mau mengalah dengan minoritas yang "tidak baik? atau jangan-jangan mayoritas anggota yang "baik" tersebut menikmati kehancuran yang sedang terjadi???

Sabtu, 11 Mei 2013

PERMAINAN

Anggap saja ini permainan yang harus diselesaikan. Terserah mau level berapa yang harus diselesaikan. Level 1, 2, 3, 4, 5 bahkan 100! Adanya level mengumpamakan sejauh mana usaha yang telah kamu lalui. Sejauh mana daya upaya yg telah kamu tempuh. Sejauh mana doa dan harapan yang telah kamu utarakan.

Bermain itu asyik, bermain itu menyenangkan. Selama dalam aturan yang sudah ditetapkan sebelum bermain. Maka akan menjadi menyenangkan. Kalau ada yang menganggap bermain itu tidak mengasyikkan dan menjenuhkan, berarti tidak memahami aturan bermain. Tidak mengikuti cara bermain. Kalau bermain sering kalah, itu wajar. Karena semua butuh usaha, dan hasil tergantung usaha

Tetapkan target, ingin ke level berapa permainan itu akan berakhir. Kalau gagal, mencoba kembali.
Permainan itu adalah "Kehidupan".